Puasa dan Pengobatan

Artikel Islam Fatwa Ulama

PERTANYAAN: asy-syaikh yang mulia, seorang wanita hanya dapat berpuasa 4 hari karena haid. di tengah waktu haidnya ia bertambah sakit, dan dengan makna yang lebih tepat, penyakit yang pernah diderita sebelum ramadhan kambuh disertai nyeri dan sakit di dadanya. ketika penyakitnya parah sakitnya menjalar ke seluruh tubuh. dia mencoba untuk berpuasa untuk berpuasa tapi merasa sulit. terpaksa dia tidak berpuasa agar bisa minum obat pada waktunya dan sembuh benar dengan izin Allah. tetapi kadang dia lupa, malas, dan lalai untuk minum obat. apakah perbuatanya di perbolehkan? apakah dia harus mengqadha’? dan bagaimana mengqadha’nya? kalau harus mengqadha’, apakah langsung setelah bulan ramadhan habis? ataukah waktu kapan saja sebelum ramadhan tahun berikutnya?
JAWABAN: Allah subhanahu wa ta’ala berfirman: “dan barangsiapa sakit ,atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang di tinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain…….”(QS. al-Baqarah:185)
kamu tidak berpuasa karena dzuhur yang di bolehkan syari’at yaitu sakit dan haidh. jika kamu hendak mengqadha’ puasa diantara dua ramadhan tidak mengapa karena waktunya panjang. ‘aisyah radhiyallahu ‘anha berkata: “dahulu aku punya hutang puasa ramadhan. aku tidak bisa mengqadha’nya kecuali di bulan sya’ban.” (HR. al- Bukhari dan muslim). beliau mengetahui keadaannya dan mendiamkannya.
dengan demikian, kamu boleh mengakhirkannya hingga Allah menyembuhkanmu. jika kamu sudah sembuh barulah mengqadha’nya walaupun penyakit itu terus kamu derita sampai ramadhan tamun berikutnya. tidak ada dosa bagimu karena kamu punya udzur-segala puji bagi Allah-. tetapi jika kkamu sudah sembuh kamu tidak boleh mengakhirkannya hingga ramadhan berikutnya. wallahul muwaffiq.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.