Artikel

🔸 Tentang Rizki Kita🔸

Spread the love

Ihkwati fillah,
Dimusim pandemi ini banyak sekali manusia yang merasa kesusahan, sempit dan hampir kehilangan akalnya, banyak manusia yang merugi harta, hati merekapun bersedih, tetapi perlu diingat bahwa hal ini bagi orang beriman merupakan bagian dari cobaan dan ujian, yang harus dihadapi dengan kesabaran, dengan dipenuhi keimanan kepada Allah ta’ala, bahwa Allah-lah pasti tidak akan menelantarkan hamba-Nya, selalu yakin bahwa Allah adalah Ar-Razaq yang artinya Maha Pemberi Rizki.

Ar-Razaq adalah salah satu nama Allah, Allah ta’ala berfirman:

إِنَّ ٱلله هُوَ ٱلرَّزَّاقُ ذُو ٱلْقُوَّةِ ٱلْمَتِين

Sesungguhnya Allah Dialah Maha Pemberi rezeki Yang mempunyai Kekuatan lagi Sangat Kokoh “ [Surat Adz-Dzariyat (51) ayat 58]

Ayat ini datang setelah Allah mengkhabarkan bahwa Allah ta’ala tidaklah menciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepadanya.
Allah ta’ala berfirman:

وَمَا خَلَقْتُ ٱلْجِنَّ وَٱلْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ – مَآ أُرِيدُ مِنْهُم مِّن رِّزْقٍۢ وَمَآ أُرِيدُ أَن يُطْعِمُونِ – إِنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلرَّزَّاقُ ذُو ٱلْقُوَّةِ ٱلْمَتِينُ

Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. Aku tidak menghendaki rezeki sedikitpun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi-Ku makan. Sesungguhnya Allah Dialah Maha Pemberi rezeki Yang mempunyai Kekuatan lagi Sangat Kokoh “ [Surat Adz-Dzariyat (51) ayat 56-58]

Allah ta’ala yang menanggung rizki hamba-hamba-Nya, Allah ta’ala memberi rizki kepada seluruh makhluknya tanpa pengecualian, bahkab Allah memberikan rizki kepada orang kafir apalagi kepada orang yang beriman, Allah berikan kepada yang lemah sebagaimana Allah memberikan kepada yang kuat, Allah ta’ala berfirman:

وَمَا مِن دَآبَّةٍۢ فِى ٱلْأَرْضِ إِلَّا عَلَى ٱللَّهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا ۚ كُلٌّۭ فِى كِتَـٰبٍۢ مُّبِينٍۢ

Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh mahfuzh) [Surat Hud (11) ayat 6]

Syaikh Nashir as-Sa’di Rahimahullah, berkata :

bahwa rizki itu ada dua, yaitu:

▶️ Pertama: Rizki ‘Am (Rizki umum),

Rizki ini mencakup orang yang baik dan orang buruk, dari orang terdahulu sampai terakhir, dan rizki yang dimaksud adalah rizki jasmani.

▶️ Kedua: Rizki Khas (Rizki Khusus).

Yang dimaksud rizki yang khusus adalah rizki hati, rizki ilmu, keimanan, serta rizki yang halal yang bisa membantu orang menjadi shalih dalam beragama.
(lihat : Taysir al-Karimir Rahman : 5/302).

Abdullah bin Mas’ud Radiyallahu ‘anhu berkata:

إِنَّ اللَّهَ قَسَمَ بَيْنَكُمْ أَخْلَاقَكُمْ كَمَا قَسَمَ بَيْنَكُمْ أَرْزَاقَكُمْ وَإِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يُعْطِي الدُّنْيَا مَنْ يُحِبُّ وَمَنْ لَا يُحِبُّ وَلَا يُعْطِي الدِّينَ إِلَّا من يحب…

Sesungguhnya Allah membagikan akhlak di antara kalian sebagaimana Dia membagikan rezeki di antara kalian. Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla memberikan dunia kepada siapa yang Dia cintai maupun tidak, sedangkan Dia memberikan agama hanya kepada yang Dia cintai…
(Syekh Al-Baniy menyatakan dalam Shahih Al-Adabul mufrad 209, Shahih mauquf dihukumi marfu’).

Ihkwati fillah,
Ada beberapa hal yang harus kita camkan tentang masalah rizki :

Pertama: Kita harus yakin bahwa yang bisa memberikan rizki hanya Allah ta’ala tidak yang lainnya dan tidak ada sekutu bagi-Nya.
Allah ta’ala berfirman:

يَـٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ ٱذْكُرُوا۟ نِعْمَتَ ٱللَّهِ عَلَيْكُمْ ۚ هَلْ مِنْ خَـٰلِقٍ غَيْرُ ٱللَّهِ يَرْزُقُكُم مِّنَ ٱلسَّمَآءِ وَٱلْأَرْضِ ۚ لَآ إِلَـٰهَ إِلَّا هُوَ ۖ فَأَنَّىٰ تُؤْفَكُونَ

Hai manusia, ingatlah akan nikmat Allah kepadamu. Adakah pencipta selain Allah yang dapat memberikan rezeki kepada kamu dari langit dan bumi? Tidak ada Tuhan selain Dia; maka mengapakah kamu berpaling (dari ketauhidan)? [Surat Fathir (35) ayat 3]

Allah Juga berfirman:

أَمَّنْ هَـٰذَا ٱلَّذِى يَرْزُقُكُمْ إِنْ أَمْسَكَ رِزْقَهُۥ ۚ بَل لَّجُّوا۟ فِى عُتُوٍّۢ وَنُفُورٍ

Atau siapakah dia yang memberi kamu rezeki jika Allah menahan rezeki-Nya? Sebenarnya mereka terus menerus dalam kesombongan dan menjauhkan diri? [Surat Al-Mulk (67) ayat 21]

Kedua: Seorang hamba hendaknya menggantungkan dirinya hanya kepada Allah semata dan Allah-lah yang membuka sebab-sebab dan pintu-pintu rizki, apabila pintu itu tertutup maka kita meminta hanya kepada Allah semata agar Allah membukanya dan agar Allah ta’ala memberkahi rizki tersebut, apabila seseorang di uji dengan kesempitan rizki maka hendaknya dia kembali kepada Allah dan meminta kepada Allah ta’ala.

Ketiga: Hanya Allah ta’ala yang memberikan rizki, Allah memberikan rizki kepada siapa yang Allah kehendaki, dan Allah tahan atau kurangi rizki bagi siapa yang Allah kehendaki. Oleh karena itu kaya dan miskin bukan ukuran dan nilai seseorang di dunia ini, akan tetapi nilai hamba disisi Allah adalah apakah dia beriman dan bertakwa kepada Allah atau tidak. Karena Allah yang memegang rizki, Allah ta’ala berfirman:

إِنَّ رَبَّكَ يَبْسُطُ ٱلرِّزْقَ لِمَن يَشَآءُ وَيَقْدِرُ ۚ إِنَّهُۥ كَانَ بِعِبَادِهِۦ خَبِيرًۢا بَصِيرًۭا

Sesungguhnya Tuhanmu melapangkan rezeki kepada siapa yang Dia kehendaki dan menyempitkannya; sesungguhnya Dia Maha Mengetahui lagi Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya. [Surat Al-Isra (17) ayat 30]

Keempat: banyaknya harta seseorang di dunia tidak menunjukkan Allah mencintainya.

Penilaian tentang banyaknya harta seseorang berarti tanda Allah mencintainya adalah penilaian orang kafir, bukan cara pandang orang beriman.

Allah ta’ala berfirman tentang perkataan orang-orang kafir yang suka berbangga dengan banyaknya harta :

وَقَالُوا۟ نَحْنُ أَكْثَرُ أَمْوَٰلًۭا وَأَوْلَـٰدًۭا وَمَا نَحْنُ بِمُعَذَّبِينَ

Dan mereka berkata: “Kami lebih banyak mempunyai harta dan anak-anak (daripada kamu) dan kami sekali-kali tidak akan diazab. [Surat Saba (34) ayat 35]

Cara pandang seperti ini adalah cara pandang orang kafir yang tidak boleh ada pada diri orang yang beriman.

Kelima: Bahwa rizki itu harus didapat dengan melaksanakan ketaatan kepada Allah ta’ala.
Nabi ﷺ bersabda:

إِنَّ رُوْحَ القُدُسِ نَفَثَ فِي رَوْعِي إِنَّ نَفْسًا لاَ تَمُوْتَ حَتَّى تَسْتَكْمِلَ رِزْقُهَا ، فَاتَّقُوْا اللهَ وَأَجْمِلُوْا فِي الطَّلَبِ ، وَلاَ يَحْمِلَنَّكُمْ اِسْتَبْطَاءَ الرِّزْقُ أَنْ تَطْلُبُوْهُ بِمَعَاصِي اللهَ ؛ فَإِنَّ اللهَ لاَ يُدْرِكُ مَا عِنْدَهُ إِلاَّ بِطَاعَتِهِ

“Sesungguhnya ruh qudus (Jibril), telah membisikkan ke dalam batinku bahwa setiap jiwa tidak akan mati sampai sempurna ajalnya dan dia habiskan semua jatah rezekinya. Karena itu, bertakwalah kepada Allah dan perbaguslah cara dalam mengais rezeki. Jangan sampai tertundanya rezeki mendorong kalian untuk mencarinya dengan cara bermaksiat kepada Allah. Karena rezeki di sisi Allah tidak akan diperoleh kecuali dengan taat kepada-Nya.” (HR. Musnad Ibnu Abi Syaibah 8: 129 dan Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Kabir 8: 166, hadits sahih. Lihat Silsilah Al-Ahadits As-Shahihah no. 2866).

Janganlah mencari rizki dengan sesuatu yang diharamkan karena tidak akan ada keberkahan padanya.

Keenam: Sebab untuk mendapatkan rizki yang paling besar adalah bertawakkal kepada Allah ta’ala.
Nabi ﷺ bersabda:

لَوْ أَنَّكُمْ تَتَوَكَّلُونَ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرَزَقَكُمْ كَمَا يَرْزُقُ الطَّيْرَ تَغْدُو خِمَاصاً وَتَرُوحُ بِطَاناً

”Seandainya kalian betul-betul bertawakkal pada Allah, sungguh Allah akan memberikan kalian rizki sebagaimana burung mendapatkan rizki. Burung tersebut pergi pada pagi hari dalam keadaan lapar dan kembali sore harinya dalam keadaan kenyang.” HR. Ahmad (1/30), Tirmidzi no. 2344, Ibnu Majah no. 4164, dan Ibnu Hibban no. 402. Syaikh Al Albani dalam Silsilah Ash Shohihah no.310

Ihkwati fillah, itulah berapa nasihat ulama tentang malasah rizki dan perlu diketahui bahwa kita diciptakan oleh Allah ta’ala bukan untuk main-main tatapi untuk tugas yang mulia, Allah ta’ala berfirman:

وَمَا خَلَقْتُ ٱلْجِنَّ وَٱلْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ – مَآ أُرِيدُ مِنْهُم مِّن رِّزْقٍۢ وَمَآ أُرِيدُ أَن يُطْعِمُونِ – إِنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلرَّزَّاقُ ذُو ٱلْقُوَّةِ ٱلْمَتِينُ

Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. Aku tidak menghendaki rezeki sedikitpun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi-Ku makan. Sesungguhnya Allah Dialah Maha Pemberi rezeki Yang mempunyai Kekuatan lagi Sangat Kokoh “ [Surat Adz-Dzariyat (51) ayat 56-58]

Allah ta’ala berfirman:

أَفَحَسِبْتُمْ أَنَّمَا خَلَقْنَـٰكُمْ عَبَثًۭا وَأَنَّكُمْ إِلَيْنَا لَا تُرْجَعُونَ

Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami? [Surat Al-Mu’minun (23) ayat 115]

🖊️ Akhukum : Abu Ya’la Kurnaedi Lc.

Comment here