ArtikelCerpenUstadz Fariq Gazim Anuz

APA YANG ADA DI SISI ALLAH ITU LEBIH BAIK

Oleh : Ustadz Fariq Gasim Anuz

🍀🌺🌹🌻

Halati (adik perempuan ibu –semoga Allah melindungi bibiku dan merahmati ibuku-) bercerita akan mimpinya. Ia sempat berkomunikasi dengan anak lakinya yang telah wafat –semoga Allah merahmatinya- lewat telepon. Halati berkata, “Saya berkata dalam mimpiku, “Umi sangat merindukanmu nak! Bagaimana kabarmu?” Anak saya menjawab, “Umi jangan mengkhawatirkan saya. Saya baik-baik saja. Apa yang ada di sisi Allah itu lebih baik. Saya menitip surat untuk umi lewat ukhti (kakak perempuannya)”. Saya segera menghampiri anak perempuanku dan menanyakan surat dari adiknya. Ia segera membuka surat adiknya dan saya baca, isinya singkat: “Maa ‘Indallahi Khairun” (“Apa yang ada di sisi Allah, lebih baik”). Kemudian saya bangun dari tidurku.”

Langsung malam itu juga saya merenungkan isi surat tersebut dan saya teringat bahwa isi surat tersebut petikan ayat dalam Al Quran. Saya mulai mencari ayat tersebut dan mempelajari dari beberapa kitab tafsir dan nasehat ulama tentang “Apa yang ada di sisi Allah, lebih baik”. Tiga hari kemudian terkumpullah beberapa faidah yang akan saya informasikan kepada pembaca sekalian. Semoga Allah memberikan manfaat untuk kita semua.

Allah berfirman yang artinya,

” Dan apabila mereka melihat perdagangan atau permainan, mereka segera menuju kepadanya dan mereka tinggalkan engkau (Muhammad) sedang berdiri (berkhutbah). Katakanlah, “Apa yang ada di sisi Allah lebih baik dari permainan dan perdagangan,” dan Allah Pemberi Rezeki yang terbaik” (Surat Al Jumu’ah 11)

Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata dalam kitab tafsirnya, ” Imam Muslim meriwayatkan dalam Shahihnya dari Jabir bin Samurah radhiallahu anhu, beliau berkata: “Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam khutbah dua kali, beliau duduk sebentar diantara dua khutbah. Beliau membacakan Al Quran dan mengingatkan manusia”. Hanya saja ada yang perlu diketahui bahwa kisah ini ada yang mengatakan ketika Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam masih memulai shalat Jum’at sebelum khutbah sebagaimana diriwayatkan Abu Daud dalam kitabnya “Al Maraasiil”, telah menceritakan kepada kami Mahmud bin Khalid, dari Walid, telah mengkhabarkan kepadaku Abu Muadz Bukair bin Ma’ruf bahwasanya dia mendengar Muqatil bin Hayyan berkata: Dahulu Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam masih memulai shalat jum’at sebelum khutbah seperti shalat Idul Fitri dan Idul Adha. Setelah selesai shalat dan saat khutbah masuklah seseorang dan berkata, “Sesungguhnya Dihyah bin Khalifah (Saat itu masa paceklik dan Dihyah belum masuk Islam) datang membawa barang dagangan”. Maka orang-orang berhamburan keluar dan hanya sedikit yang tetap duduk di tempat. “Katakanlah, apa yang ada di sisi Allah” yaitu berupa pahala di akhirat. “Lebih baik dari permainan dan perdagangan, dan Allah Pemberi Rezeki yang terbaik” yaitu bagi yang bertawakal kepada Nya dan mencari rezeki tepat pada waktunya”. (Tafsir Ibnu Katsir)

Ada seorang pedagang juice buah di kios dekat pasar di negeri Syam. Ada pemandangan yang tidak masuk akal, kios tersebut ramai dipenuhi pembeli. Jika adzan dzuhur berkumandang, penjual juice itu menutup kiosnya untuk shalat dzuhur. Padahal ada sekitar dua puluh orang pembeli sedang antri ingin membeli. Ia tidak peduli tetap menutup tokonya dan berangkat ke Masjid untuk shalat dzuhur berjamaah. Para pembeli yang sedang antri mereka pun akhirnya pergi ke Masjid untuk shalat dzuhur berjamaah.Sekitar 20 menit kemudian baru buka kembali, para pembeli pun datang kembali melanjutkan antriannya untuk membeli juice dari bapak tersebut. Hanya untuk segelas juice, mereka mau berlama lama menunggu. Secara logika, penjual juice itu ketika menutup tokonya akan berkurang rezekinya. Dia lebih memilih pahala dari sisi Allah dibandingkan keuntungan berupa harta. Barangsiapa yang meninggalkan sesuatu karena Allah maka Allah akan menggantinya dengan yang lebih baik. Dan Allah Pemberi rezeki yang terbaik.

Allah berfirman yang artinya,

” Dan apa saja (kekayaan, jabatan, keturunan dan lainnya) yang diberikan kepada kalian, maka itu adalah kesenangan hidup duniawi dan perhiasannya, sedang apa yang di sisi Allah adalah lebih baik dan lebih kekal. Tidakkah kalian mengerti?

Maka apakah sama orang yang Kami janjikan kepadanya satu janji yang baik (Surga) lalu dia memperolehnya, dengan orang yang Kami berikan kepadanya kesenangan hidup duniawi, kemudian pada hari kiamat dia termasuk orang-orang yang diseret (ke dalam neraka)?” (Surat Al Qashash 60-61)

“Mata’un (perhiasan) adalah kelezatan sekejap. Jika sekarang lidah atau gigi anda sakit maka apakah anda bisa merasakan kelezatan rasa makanan yang pernah anda makan dalam pesta perkawinan atau di rumah makan beberapa waktu lalu? Atau ketika perut anda lapar, lalu anda makan menikmati hidangan sampai anda kenyang. Setelah itu anda diminta untuk makan lagi, apakah anda masih berselera? Meskipun makanan yang dihidangkan untuk kedua kali ini lebih lezat dari yang pertama maka anda sudah tidak bernafsu lagi. Apa yang di sisi Allah itu lebih baik dan lebih kekal. Adapun kelezatan kehidupan dunia itu sedikit dan akan lenyap. Jika anda ditawarkan dengan dua pilihan, diberi hadiah rumah kecil seharga lima puluh juta atau dipinjami rumah besar hanya untuk beberapa jam saja? Tentu anda akan memilih diberi rumah kecil. Kalau anda ditawarkan akan diberi hadiah rumah besar harga miliyaran rupiah atau dipinjami rumah yang sama untuk sehari? Tentu anda akan memilih diberi hadiah rumah besar. Kalau anda ditawarkan dipinjami rumah kecil seharga lima puluh juta rupiah atau diberi hadiah rumah besar harga miliyaran rupiah? Tentu anda akan memilih diberi hadiah rumah besar”.

Perbandingan di atas pun masih belum tepat untuk membandingkan antara dunia dan akhirat. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam memberikan Perumpamaan dalam sabdanya,

“Demi Allah! Perbandingan dunia dengan akhirat adalah seperti seseorang dari kalian yang memasukkan satu jarinya ke laut, hendaknya dia melihat, dengan membawa apa jari itu kembali.” (HR. Muslim)

Dunia ibaratnya setetes air laut dan akhirat bagaikan semua air laut di dunia ini!

Suatu ketika Sahabat Jabir bin Abdullah radhiallahu anhuma berkisah sebagaimana yang diriwayatkan oleh al-Imam Muslim di dalam shahihnya,“Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam suatu ketika melewati pasar sementara orang-orang ada di sekitar beliau. Beliau melintasi bangkai seekor anak kambing yang cacat telinganya. Beliau memegang telinga bangkai tersebut seraya berkata,

“Siapa di antara kalian yang suka memiliki anak kambing ini dengan membayar seharga satu dirham?” Mereka menjawab, “Kami tidak ingin memilikinya dengan harga semurah apapun. Apa yang dapat kami perbuat dengan bangkai ini?” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian berkata,“Apakah kalian suka bangkai anak kambing ini menjadi milik kalian?” Mereka menjawab, “Demi Allah, seandainya pun anak kambing ini masih hidup, tetaplah ada cacat di telinganya. Apatah lagi ia telah menjadi seonggok bangkai,”. Beliau pun bersabda setelahnya, “Demi Allah, sungguh dunia ini lebih rendah dan hina bagi Allah daripada hinanya bangkai ini bagi kalian.” (HR. Muslim)

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda pula,

“Seandainya dunia punya nilai di sisi Allah walau hanya menyamai nilai sebelah sayap nyamuk, niscaya Allah tidak akan memberi minum kepada orang kafir seteguk airpun.” (HR. Tirmidzi dan beliau berkata: Hadits Hasan Shahih)

Sungguh beruntung seorang yang pikirannya, perhatiannya, cita-citanya memperoleh kebahagiaan akhirat. Sungguh beruntung seorang yang mendapatkan taufik Allah sehingga menjadikan kehidupannya di dunia sebagai ladang untuk kehidupannya di akhirat.

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda yang artinya,

“Siapa yang menjadikan akhirat sebagai pusat perhatiannya, niscaya Allah akan membuatnya kaya di hatinya, segala urusannya menjadi teratur dan dunia datang kepadanya tanpa perlu mengejarnya. Sementara siapa yang menjadikan dunia sebagai pusat perhatiannya, niscaya Allah akan menjadikan kefakiran berada di depan matanya,segala urusannya menjadi kacau dan kepadanya dunia datang sekadar yang telah ditakdirkan baginya” – (Hadits Shahih riwayat Tirmidzi)

“Ya Allah, anugerahilah kami rasa takut kepada-Mu yang menjadi penghalang antara kami dan maksiat kepadaMu, anugerahilah kami ketaatan kepada-Mu yang dapat mengantarkan kami kepada surga-Mu, anugerahilah kami keyakinan yang dapat meringankan berbagai musibah dunia. Ya Allah, berilah kebahagiaan kepada kami, melalui pendengaran kami, penglihatan kami, kekuatan kami, selama Engkau menghidupkan kami. Dan jadikanlah kebahagiaan itu selamanya bersama kami. Jadikanlah balasan kami atas orang-orang yang telah mendzalimi kami dan tolonglah kami melawan orang-orang yang memusuhi kami. Jangan Engkau jadikan musibah kami pada agama kami, jangan Engkau jadikan dunia sebagai tujuan tertinggi kami dan puncak pengetahuan kami dan janganlah Engkau jadikan orang-orang yang tidak menyayangi kami menjadi pemimpin kami.”

Allah berfirman yang artinya,

” Apa pun (kenikmatan) yang diberikan kepada kalian, maka itu adalah kesenangan hidup di dunia. Sedangkan apa (kenikmatan) yang ada di sisi Allah lebih baik dan lebih kekal bagi orang-orang yang beriman, dan hanya kepada Rabb mereka bertawakal” (Surat Asy Syuuraa 36)

” Janganlah kamu sekali-kali terpedaya oleh kegiatan orang-orang kafir (yang bergerak) di seluruh negeri. Itu hanyalah kesenangan sementara, kemudian tempat kembali mereka ialah neraka jahannam. (Jahannam) itu seburuk-buruk tempat tinggal. Tetapi orang-orang yang bertakwa kepada Rabb mereka, mereka akan mendapat surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya sebagai karunia dari Allah. Dan apa yang di sisi Allah lebih baik bagi orang-orang yang berbakti” (Surat Ali Imran 196-198)

Suhaib Ar Rumi radhiallahu anhu hijrah dari Makkah menuju Madinahuntuk menyusul Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam dan para Sahabat radhiallahu anhum ajma’in. Orang-orang kafir Quraisy menghalangi dan menahan beliau di tengah jalan. Beliau dari tempat yang tinggi segera mengeluarkan anak panah serta bersiap untuk melepaskannya dari busurnya. Kemudian beliau berkata, “Wahai kaum Quraisy, kalian tahu kalau aku seorang ahli memanah. Sungguh, demi Allah, aku mampu membidik dan membunuh kalian semua dengan anak panahku ini dan aku tebas kalian dengan pedangku jika anak panah itu habis dari tanganku!

Salah seorang dari mereka berkata, ” Dulu anda adalah seorang fakir miskin yang datang kepada kami, kemudian harta anda menjadi berlimpah dan anda menjadi seorang pedagang sukses di tengah-tengah kami. Kami tidak akan membiarkan anda pergi ke Madinah dengan membawa harta kekayaan yang anda dapatkan di Makkah”. Shuhaib bertanya, “Apakah kalian akan membiarkan aku pergi jika aku serahkan hartaku kepada kalian?” Mereka menjawab, “Ya !”

Bagi Suhaib jika alasannya karena harta maka tidaklah masalah. Harta tidak berharga sama sekali di banding dengan hijrah dan mempertahankan keyakinan. Apa yang ada di sisi Allah lebih baik dibandingkan dunia dan seisinya. Beliau setuju untuk menyerahkan harta yang dimilikinya. Lalu Shuhaib memberitahukan tempat hartanya disimpan di Makkah. Merekapun mempercayai ucapan Shuhaib karena beliau dikenal jujur dan membiarkannya melanjutkan perjalanannya ke Madinah.

Setibanya Shuhaib di Madinah menemui Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam, beliau memuji keputusan dan sikap Shuhaib dan mengatakan, “ Perdagangan yang menguntungkan wahai Abu Yahya! Sungguh perdagangan yang menguntungkan!” Beliau mengulangnya tiga kali. Wajah Shuhaib merona kemerahan gembira dengan pujian Rasul dan mengatakan, “Demi Allah, aku tidak menceritakan hal ini ke seorangpun. Tentu malaikat Jibril yang telah memberitahumu”. Lalu turunlah firman Allah yang artinya,

“ Dan di antara manusia ada orang yang menjual dirinya untuk mencari keridhaan Allah. Dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya” (Surat Al Baqarah 207)

Halati berkata, “Mungkin hikmah dari mimpi saya sebagai pesan kepada saya agar saya banyak beramal untuk akhirat saya”. Ya halati, Insya Allah mimpi halati juga sebagai pesan untuk saya sebagai keponakannya dan termasuk sebagai pesan untuk pembaca sekalian agar kita selalu ingat bahwa akhirat itu lebih baik dari dunia, apa yang ada di sisi Allah, lebih baik. Semoga Allah memberikan pertolongan dan taufik Nya kepada kita semua agar dapat mempraktekkan pesan ini dalam amaliah nyata di kehidupan kita sehari-hari. Karena tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah. Hanya kepada Mu kami beribadah dan hanya kepada Mu kami memohon pertolongan. Fastabiqul khairat…

🌹🌻🌺🍀

(Dari Buku “Mengasah Hati”
Oleh: Ustadz Fariq Gasim Anuz
Penerbit: Ajib Publishing, Jakarta)

Comment here