Artikel

KAEDAH DALAM ASMA DAN SIFAT (Bag-1)

Spread the love

KAEDAH DALAM ASMA DAN SIFAT (Bag-1)

Oleh : Abu Ghozie As Sundawie

Salah satu dari perkara wajib yang harus diimani oleh seorang hamba adalah bahwa Allah memiliki nama nama yang paling baik (al Husna) dan sifat sifat yang maha tinggi (al ‘Ulya).

Hal ini masuk kepada bagian iman kepada Allah yang mengandung keimanan kepada empat perkara, iman kepada adanya (wujud) Allah, iman kepada rububiyah Allah, imana kepada Uluhiyah Allah dan iman kepada nama nama dan sifat sifat Nya.

Kewajiban beriman dan mentauhidkan Allah dalam Nama nama dan Sifat sifat Nya telah ditetapkan berdasarkan Al Qur’an, Sunnah serta Ijma’ (kesepakatan) para ulama Salaf Ahlus sunnah wal jama’ah.

Mereka telah meletakan kaedah kaedah penting dalam menetapkan nama dan sifat Allah mengingat banyaknya kaum yang menyandarkan kepada Islam terjatuh dalam penyimpangan dalam masalah besar dan sangat mendasar ini, khususnya dalam masalah sifat sifat Allah.

Secara garis besar sebab penyimpangan nya adalah karena mereka meninggalkan cara dan metode yang ditempuh kaum salaf dalam penetapan sifat sifat Allah, kebanyakan dari kelompok kelompok yang menyimpang dalam masalah ini seperti kelompok mu’athilah [1] dari kalangan Jahmiyyah [2], Mu’tazilah [3], Asya’irah [4], Maturidiyah [5], Kulabiyyah [6]dan yang serupa dengan mereka, telah mengingkari sifat sifat Allah, atau menetapkan sebagian sifat dan menafikan sebagian sifat yang lain bersandar kepada Akal (logika).

Sifat sifat Allah yang masuk akal mereka tetapkan dan yang tidak sesuai dengan akal mereka akan ditolak atau dipalingkan maknanya nya kepada makna lain tanpa dalil (tahrif), mereka membatasi penetapan sifat hanya pada sifat sifat yang masuk akal saja menurut persangkaan mereka, sebagaimana penetapan tujuh sifat Allah oleh kaum Asya’irah [7].

Penetapan sifat sifat Allah yang disandarkan kepada akal jelaslah sebuah kesesatan yang nyata, karena akal hanyalah sarana untuk memahami nash nash syari’at, bukan sebagi sumber hukum , dan akal wajib ta’at kepada wahyu apalagi dalam urusan ghoib seperti dalam urusan Dzat dan sifat sifat Allah, tidak ada ruang bagi akal untuk memikirkan dan menetapkan nama dan sifat sifat Allah. Selain dari hal itu, akal manusia pun memiliki kemampuan yang terbatas, sebagaimana panca indra yang lainnya.

Betapa banyaknya dalam kehidupan kita sehari-hari sesuatu yang tidak terjangkau oleh akal manusia, seperti seperti hakikat dari ruh (nyawa) manusia itu sendiri. Pada hal ia adalah bagian yang paling terdekat kepada manusia.

Sebagian ulama memberikan perumpamaan akal dengan wahyu bagaikan mata dengan cahaya. Sebagaimana mata tidak dapat melihat sesuatu kecuali ketika ada cahaya, baik cahaya matahari di siang hari, atau cahaya lampu di malam hari. Demikian pula akal tidak akan bisa menentukan sesuatu terutama dalam hal yang ghaib, kecuali ada penjelasan dari wahyu.

Maka dari itu akal kita wajib tunduk dan menerima terhadap segala apa yang terdapat dalam Al-Qur’an dan sunnah. Baik berupa hukum-hukum maupun tentang nama dan sifat-sifat Allah. Sebagaimana diwajibkannya hati dan anggota badan kita untuk tunduk kepada segala hukum Al-Qur’an dan sunnah.

Kita tidak boleh mendahulukan logika diatas Al-Qur’an dan sunnah, atau menjadikannya sebagai dasar untuk menentukan atau menetapkan nama dan sifat-sifat Allah. Apalagi menolak nama dan sifat-sifat Allah yang terdapat dalam Al-Qur’an dan hadits-hadits shahih.

Demikian pula kita tidak menjadikan teori-teori filsafat sebagai dasar dalam memahami nama dan sifat-sifat Allah yang terdapat Al-Qur’an dan sunnah. Tetapi kita merujuk kepada pemahaman sahabat dan para ulama salaf dalam memahami Al-Qur’an dan sunnah secara umum dan dalam memahami nama dan sifat-sifat Allah secara khusus.

Abul Qasim Hibatullah at Thobari al Lalikaai rahimahullah berkata :

وُجُوبُ مَعْرِفَةِ اللَّهِ تَعَالَى وَصِفَاتِهِ بِالسَّمْعِ لَا بِالْعَقْلِ

“Wajib mengenal Allah ta’ala dan sifat sifat Nya melalui wahyu bukan Akal (logika) ” [8]


[1] Mu’athilah, artinya kaum yang menolak atau mengingkari sifat sifat Allah baik menolak sifat secara total ataupun menolak sebagian sifat
[2] Jahmiyyah, kelompok yang dikafirkan oleh 500 ulama dizamannya, dinisbatkan kepada Abu Muhriz Jahm bin Shofwan As Samarqandy, mati dizaman Tabi’in tahun (128 H)
[3] Mu’tazilah, kaum yang mengikuti pemahaman sesat Washil bin ‘Atho al Ghozal (w 131 H) dan Abu Utsman ‘Amer bin ‘Ubaid (w 144 H)
[4]Asy’ariyah, dinisbatkan kepada Imam Abu Hasan al Asy’ari rahimahullah (w 324 H) sebelum tobatnya dari aqidah tahrif sifat kepada aqidah salaf, penetapan sifat tanpa tahrif, ta’thil, takyif dan tamtsil.
[5] Maturidiyah, dinisbatkan kepada Abu Manshur Muhammad bin Muhamad al Maturidi (w 333 H)
[6] Kulabiyyah, nisbat kepada Abu Muhammad Abdullah bin Sa’id bin Kulab Al Bashri ( w 243 H)
[7] Tujuh sifat yang ditetapkan mereka adalah sifat : hayat (hidup), Qudrah (berkemampuan), Iradah (kehendak), Ilmu (mengetahui),Sama’ (mendengar), Bashar (melihat), Kalam (berbicara), adapun sifat sifat lainnya mereka ingkari dengan cara memalingkan dari maknanya yang dzahir kepada makna yang lain dengan cara yang bathil, seperti sifat al Yad (tangan) diartikan nikmat, atau kekuasaan, Istiwa diartikan istaula (menguasai) dll.
[8]Syarah Ushul I’tiqad Ahlis Sunnah, Al Laalikaai rahimahullah 2/216

Comment here