Artikel

Kebiasaan Menyalahkan

Spread the love

πŸ–πŸ“šπŸ–πŸ“šπŸ–πŸ“š

Dari Anas bin Malik radhiallahu anhu, beliau pernah tinggal dan membantu Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam selama sepuluh tahun, baik ketika di rumah maupun dalam perjalanan.

Anas radhiallahu anhu menceritakan bahwa selama 10 tahun Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam tidak pernah mengatakan “Uh” kepadanya. Beliau Shallallahu Alaihi Wasallam juga tidak pernah menyalahkan Anas radhiallahu anhu atas apa yang dilakukannya ataupun yang tidak dilakukannya. Misalnya, dengan mengatakan, β€œKenapa engkau melakukan ini?” atau β€œKenapa engkau tidak melakukan hal itu?” (HR Bukhari dan Muslim)

πŸ“šπŸ–πŸ“šπŸ–πŸ“šπŸ–

Seorang supir rumah tangga di Jeddah pernah bercerita, bahwa ia memiliki kiat untuk mengatasi majikan yang sering menyalahkannya jika mereka terjebak macet di Kota Jeddah.

Setiap terjebak macet di jalan, majikannya selalu menyalahankan supir dengan menegur, β€œMengapa kamu tidak memilih jalan lain?”

Sejak saat itu, setiap ada pilihan jalan, supir bertanya dahulu kepada majikannya untuk memilih jalan mana yang akan ditempuh, dan ketika ternyata mobil terjebak macet, majikannya diam saja tidak menyalahkan dirinya.

Suatu hari majikan supir tersebut mengajak istri dan anaknya pergi naik mobil untuk suatu keperluan. Supir mulai menanyakan pilihan jalan yang perlu ditempuh ketika melewati beberapa alternatif di tengah perjalanan. Majikan laki-laki memutuskan satu jalan yang perlu dilalui.

Ternyata tidak berapa lama, mobil mereka terjebak macet. Majikan laki-laki marah kepada supirnya dengan mengatakan β€œMengapa kamu lewat jalan ini yang menyebabkan kemacetan?”.

Anak perempuan majikan justru membela supir dan mengingatkan ayahnya bahwa ia lah yang memilih untuk melewati jalan tersebut. Akhirnya majikan laki-laki tersebut diam dan malu kepada supirnya.

πŸ–πŸ“šπŸ–πŸ“šπŸ–πŸ“š

Ada seorang ibu rumah tangga menelpon suaminya untuk memberitahukan bahwa anaknya sakit panas. Ia berharap suaminya menenangkan hatinya yang sedang galau dan memberikan solusi terbaik. Namun, yang ia dapat justru suaminya menyalahkannya, “Kamu beri makan apa anak kita sehingga dia sakit!?” Karena disalahkan, ia bertambah sedih dan hatinya semakin galau.

πŸ“šπŸ–πŸ“šπŸ–πŸ“šπŸ–

Apabila selama ini kita sering menyalahkan orang lain, maka mulai dari sekarang, tinggalkanlah kebiasaan buruk tersebut. Carilah solusi dari permasalahan yang timbul akibat kesalahan tersebut!
Boleh dalam kesempatan lain memberikan pelajaran dari kesalahan yang dilakukannya, jika kesalahan tersebut tidak pantas untuk terjadi. Adapun kesalahan yang wajar seharusnya kita memaklumi. Sedangkan kesalahan berupa dosa dan kemungkaran, maka harus diingkari dengan bijaksana, dan bukan dalam pembahasan kita kali ini.

πŸ–πŸ“šπŸ–πŸ“šπŸ–πŸ“š

Oleh : Al Ustadz Fariq Gasim Anuz οΊ£ΩŽο»”Ωο»ˆΩŽο»ͺُ ﺍﻟﻠο»ͺ

Comment here