Artikel

KEINDAHAN DI BALIK SHALAT

Sebelum kita melangkah lebih jauh untuk mengenal keindahan di balik ibadah shalat itu sendiri. Secara bahasa shalat bermakna do’a. Sedangkan secara istilah shalat bermakna: beribadah kepada Allah berupa ucapan, lisan dan perbuatan, yang dimulai dengan takbir dan di akhiri dengan salam, disertai dengan niat dan cara-cara yang khusus. Hal itu karena ibadah shalat berisi doa. Oleh karena itu, orang yang shalat tidak terlepas dari do’a ibadah, memuji, dan meminta.

Shalat memiliki kedudukan yang sangat tinggi dalam islam. Ia adalah salah satu rukun islam yang menempati urutan ke dua setelah syahadat. Sahabat mulia Ibnu Umar menuturkan bahwa Rasulullah bersabda: “islam ini dibangun atas lima rukun, syahadat (persaksian) bahwa tiada yang berhak di ibadahi kecuali Allah dan bahwa muhammad utusan Allah mendirikan shalat, berpuasa di bulan Ramadhan, zakat dan berhaji.” (HR. Al-Bukhori

Shalat merupakan tiang agama, tidak akan tegak agama ini tanpa shalat, sebagai mana sabda nabi “Inti perkara adalah islam, dan tiangnya adalah shalat” (HR. At-Tirmidzi:2621). Ini merupakan ibadah yang pertama kali dihisab pada hari kiamat, jikalau ia baik maka amalan seluruhnya pun ikut baik dan pelakunya akan mendapatkan keberuntungan dan keselamatan. Namun sebaliknya, apabila ia tidak baik maka amalan pun ikut tidak baik serta pelakunya akan merugi dan binasa. Betapa urgen (penting) ibadah ini, sampai-sampai Rasulullah berwasiat di akhir hayatnya. Beliau bersabda:

“Senantiasa peliharalah shalat dan peliharalah hak-hak budakmu.” HR. Ibnu Majah: 1614

Keindahan islam dibalik ibadah ini banyak sekali, di antaranya:

  1. Diwajibkan hanya lima waktu dalam sehari semalam

Perilaku kita ketahui bahwa awal mula disyari’atkan ibadah shalat, dilakukan sebanyak 50 kali dalam sehari semalam. Perintah ini diterima langsung oleh Rasulullah ketika isra mi’roj ke sidrotul muntaha. Melihat hal itu sangat menyusahkan bagi umat beliau, tiada di antara mereka yang sanggup menjalankannya dengan sempurna, maka Allah memberikan kemudahan dan keringanan dengan menguranginya sebanyak lima kali dalam sehari semalam. Walaupun demikian padahal melakukan shalat lima kali dalam sehari semalam sepadan dengan melakukan shalat sebanyak 50 kali dalam sehari semalam.

Anas bin malik menuturkan bahwa pada mulanya shalat di wajibkan atas nabi Muhammad sebanyak 50 kali dalam sehari semalam. Lalu Allah memanggil Rasulullah “Wahai Muhammad, sesungguhnya keputusan di sisi-Ku tidak dapat di ubah. Dan sesungguhnya dalam shalat ini engkau mendapatkan pahala yang sama dengan melaksanakan shalat 50 kali.” (HR. Al-Bukhori:349)

  1. Ketika tidak mampu melaksanakannya dengan berdiri

Hal ini pernah disinggung pada edisi khusus kita bahwa apabila seorang tidak mampu berdiri dalam melaksanakan shalat maka hendaknya dia duduk, bila tidak mampu maka berbaring. Shalat adalah ibadah penghubung seorang hamba dengan Robnya. Oleh karenanya, syariat yang mulia ini memudahkan jalannya.

  1. ketika mata hari menyengat

Pada asalnya shalat dilaksanakan pada awal waktu. Akan tetapi, terkadang ada hal-hal yang membuat seseorang sulit mengerjakannya pada awal-awal waktunya, semisal panas terik matahari. Syariat yang mulia ini membolehkan bahkan mensunahkan agar mengakhirkan shalat sampai cuaca agak dingin, dengan syarat tidak sampai keluar dari waktunya. Khusus ini banya terjadi pada shalat Zhuhur

Abu Dzar menuturkan: ”kami dahulu pernah mengadakan perjalanan bersama Rasulullah pada saat itu ada seorang yang hendak mengumandangkan azan untuk salat zhuhur, maka Rasulullah bersabda: “Tunggu, biar cuaca agak dingin. Beliau mengulanginya sampai dua atau tiga kali. Lalu beliau bersabda: seseungguhnya panas matahari merupakan luapan panas Nerakan Jahannam. Apabil cuaca sangat panas, maka shalatlah ketika sudah dingin.” (HR. Al- Bukhori:539)

  1. Ketika menjadi mushafir (dalam perjalanan)

Siapa saja yang mengadakan perjalanan tentu akan mengalami situasasi yang tidak dialaminya ketika bermukim. Bahkan pada umumnya mushafir dihadapkan pada berbagai macam kesulitan, antara lain: rasa dingin, panas, kantuk, tidak menemukan air, tubuh lesu tidak dalat beristirahat dengan sempurna dan seterusnya. Bisa kita katakan bahwa syaraf bisa kita identikan dengan kesulitan, sehingga saat itulah kemudahan-kemudahan sangat dibutuhkan agar seorang mushafir dapat menemukan kewajiban tanpa kesulitan.

Agama yang mulia ini memberikan solusi terbaik demi terciptanya ibadah dengan baik dan sempurna. Dalam hal ini, islam mensyariatkan mengqoshor (meringkas) shalat yang 4 raka’at menjadi 2 raka’at.

Dari sahabat Jabir dia berkata. “Sesungguhnya Rasulullah menetap di Tabuk selama dua puluh hari, dan beliau mengqosor shalat.” (HR. Abu Dawud:1236 dan dishohihkan oleh al-Albani. Lihat al-irwa’:574)

 

Diambil Edisi 11 Tahun ke 1 jumadil ‘ula-jumadil tsaniyah 1429 H/ juni 2008 oleh Abu Hafizh Dzulkifli.

Comment here