Artikel

Menyesali Sikap Keras kepada Anak

Spread the love

*Menyesali Sikap Keras kepada Anak*

… Hendaklah kita mengambil pelajaran dari kisah bapak yang menyesali sikapnya, ketus dan sering marah kepada anaknya yang masih kecil, dan kemudian berusaha untuk memperbaiki dirinya. Berikut adalah penuturannya,

“Dengarlah, anakku: Ayah mengatakan hal ini di hadapanmu ketika kau sedang tertidur pulas. Kau letakkan tanganmu yang mungil di bawah pipimu, beberapa helai rambutmu yang pirang menempel di dahimu yang basah. Ayah diam-diam memasuki kamarmu. Beberapa saat yang lalu, ketika Ayah membaca buku di kamar kerja, tiba-tiba ayah dihantui rasa penyesalan yang mendalam. Oleh karena itu, sekarang ayah datang, duduk di sampingmu dengan perasaan penuh dengan dosa.

Wahai anakku, selama ini tidak terpikirkan olehku bahwa ayah telah bertindak ketus dan bersikap keras terhadapmu. Ayah membentakmu sewaktu kau memakai pakaian ketika hendak sekolah karena kau hanya mencuci muka saja. Ayah dibuat kesal olehmu karena kau tidak membersihkan sepatumu. Ayah berteriak marah-marah sewaktu kau terlantarkan mainanmu di lantai.

Pada waktu sarapan Ayah mendapatkanmu berbuat kesalahan juga. Kau tumpahkan makananmu, kau bunyikan meja dengan sikumu, kau cela makanan. Keju yang kau taruh di roti terlalu tebal. Dan sewaktu kau masih bermain-main sedangkan ayah sudah bersiap berangkat bekerja hendak ke stasiun kereta api, kau membalik sambil melambaikan tangan dan berseru, “Selamat jalan ayah!” Aku balas dengan cemberut lalu kukatakan, “Berdirilah dengan tegak!”

Di sore hari, terjadi lagi ketegangan. Sewaktu ayah berjalan pulang menuju rumah, ayah melihat kau sedang bermain kelereng sambil berlutut. Kulihat kaos kakimu berlubang. Kau kupermalukan di depan teman-temanmu dengan mendorongmu berjalan pulang di depanku. “Kaos kaki itu mahal dan andaikan kau membelinya dengan uangmu sendiri, kau pasti akan berhati-hati!” Bayangkan wahai anakku, apakah itu tindakan ayah yang baik?

Ingatkah kau—setelah itu—waktu ayah membaca di kamar kerja, lalu kau datang melongok dengan wajah yang murung, kau bolak-balik melongok ke kamar membuat ayah terganggu dan tidak konsentrasi dalam membaca sehingga aku membentakmu, “Mau apa?” Kau menjawab, “Tidak mau apa-apa.” Tetapi setelah itu kau lari menghampiriku dan merangkulku kuat-kuat lalu menciumku. Kedua lenganmu yang mungil merangkulku dengan kuat penuh kecintaan dari lubuk hati yang paling dalam, cinta yang tidak pernah layu dari seorang anak kepada ayahnya, meskipun aku memperlakukanmu dengan keras. Setelah itu kau berlari dan naik ke lantai atas.

Baik, anakku, tidak lama sesudah itu, bukuku terjatuh dari tanganku dan tiba-tiba ayah diliputi perasaan takut yang sangat dan merasa jijik terhadap diriku sendiri. Apa hasilnya dari kebiasaan burukku itu? Kebiasaan mencari-cari kesalahan, bersikap keras, inikah hadiah dari seorang ayah kepada anak yang masih kecil sepertimu? Tindakan kasarku bukan karena aku tidak mencintaimu, melainkan ayah menuntut terlalu banyak darimu. Ayah mengukur dirimu dengan ukuran orang dewasa.

Sungguh banyak sifat-sifat terpuji dalam kepribadianmu. Hatimu yang kecil bagaikan cahaya fajar yang menyinari cakrawala yang luas. Ini nampak ketika kau menghampiriku secara spontan dan menciumku sebelum tidur. Yang ayah pikirkan malam ini hanyalah dirimu. Ayah berada di sisimu dalam kegelapan, duduk berlutut, malu pada diriku sendiri!

Ini sedikit upaya untuk menghapus kesalahan, ayah tahu kau tidak akan mengerti semua ini jika kukatakan kepadamu. Tetapi besok, aku akan menjadi seorang ayah yang sesungguhnya, aku akan bersahabat denganmu, menderita bila kau menderita, sedih jika kau sedih dan ikut bergembira jika kau gembira. Lidahku akan kutahan, kalau ada perbuatanmu yang membuatku kesal. Ayah akan terus mengucapkan suatu kalimat yang akan kujadikan sebagai moto, ‘Maklum, ia masih anak-anak.’

Ayah tak akan memperlakukanmu sebagai orang dewasa sebagaimana sikapku selama ini kepadamu.Tapi, ketika aku memandangimu sekarang ini, wahai anakku, tidur meringkuk di kasurmu, aku memandangmu, kau adalah anak kecil. Sepertinya baru kemarin kau digendong ibumu, kepalamu menempel dibahunya. Ayah telah menuntutmu terlalu banyak, ayah telah menuntutmu terlalu banyak.” [1]

Kita sebagai muslim wajib menjadi ayah dan ibu yang baik bagi anak-anak kita. Sungguh prihatin dan mengenaskan jika kita mendengar anak-anak kecil diperlakukan dengan keras dan kasar. Mudah-mudahan kita mau berpikir, merenung, menyesali kesalahan dan memperbaikinya selagi masih diberi umur panjang, sebelum datangnya ajal.

——————
[1] Kaifa Tuatstsiru ‘alaa al-Aakhariin wa Taktasibu Al-Ashdiqaa’, hal. 18-20.

(29 Pelajaran Berharga dari Kisah Dai Cilik, Al Ustadz Fariq Gasim Anuz ﺣَﻔِﻈَﻪُ ﺍﻟﻠﻪ, Penerbit: Darus Sunnah Jakarta)

Comment here