Artikel

Penyebab Hasad dan Cara Mengobatinya

Ketahuilah bahwa jiwa mempunyai pembawaan mencintai kedudukan yang tinggi. Ia tidak suka jika diungguli dengan yang lainnya. Dan ini adalah faktor yang paling kuat mendorong orang untuk hasad (iri dan dengki).

Oleh sebab itu, hasad bertambah semarak antara sesama teman sejawat. Seorang ulama tidak akan hasad kecuali dengan sesama ulama, seorang pencari ilmu tidak akan haasad kecuali dengan sesama pencari ilmu, seorang pedagang tidak akan hasad kecuali dengan sesama pedagang, dan seterusnya.

FAKTOR PENDORONG HASAD

Fakto-faktor yang bisa mendorong seseorang berbuat hasad ialah:

  1. Permusuhan dan kebencian

Permusuhan dan kebencian adalah sebab utama yang menonjol yang mendorong seseorang berbuat hasad. Permusuhan akan mengakibatkan amarah dan rasa dendam dan apabila seseorang tidak bisa melampiaskannya atau membalas perbuatan musuhnya kepadanya maka yang tersisa adalah kedengkian. Andai kata musuhnya mendapatkan musibah, maka ia merasa senang dan mengira bahwa itu adalah sebuah pembalasan atau murka Allah bagi dirinya. Dan apabila ia mendengar musuhnya mendapat nikmat maka ia resah dan berharap untuk hilang darinya . (Lihat QS. Ali Imron [3]:120)

  1. Sombong

Kesombongan bisa mendorong seseorang kepada hasad. Apabila rival-rivalnya mendapat harta atau kedudukan, ia merasa khawatir seandainya mereka takabur di hadapannya ia tidak bisa menyamai atau mengungguli, sehingga ia berharap bisa menandingi atau berharap apa yang dimiliki oleh rival-rivalnya hilang.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah menyebutkan bagaimana orang Yahudi hasad terhadap nikmat Alloh Subhanahu Wa Ta’ala yang diberikan kepada Rasulullah Muhammad  Sholallahu Alayhi Wassalam allah berfirman:

Sebagian besar ahli kitab menginginkan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman, karena dengki yang (timbul) dari diri mereka sendiri, setelah nyata bagi mereka kebenaran. Maka ma’afkanlah dan biarkanlah mereka, sampai Alloh mendatangkan perintah-Nya. Sesungguhnya Alloh maha kuadsa atas segala sesuatu. (QS. Al-Baqoroh [2]100)

Demikian pula kedengkian orang-orang kafir secara umum kepada para nabi Alloh. (Lihat QS. Az-Zukhruf[43]:31)

  1. Bangga diri

Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah mengisahkan kepada kita tentang umat yang terdahulu yang menolak kebenaran yang dibawa oleh para nabi mereka karena menganggap dirinya lebih mulia dan para nabi tidak layak untuk mendapatkan gelar kenabian dan mendapatkan wahyu. Sehingga mereka hasad dan mengharapkan hilangnya gelar kenabian tersebut. (Lihat QS.Yasin[36]:15, QS. Al-mu’minun[23]:47 dan 34)

  1. Merasaa takut tidak tercapai tujuannya

Bila berdua yang merupakan teman sejawat punya satu tujuan yang sama dalam waktu bersamaan, maka umumnya setiap mereka akan hasad terhadap yang lain atas setiap nikmat yang mendukung kepada keuntungan individu. Ia akan saling hasad kepada setiap nikmat yang dianggap bahwa nikmat tersebut temannya akan menggauli dirinya atau mendahuliu dalam pencapaian tujuan.

  1. Cinta kedudukan dan senang dipuji

Orang yang gila akan tampuk kepemimpinan ataupun pujian dan sanjuangan apabila ia mendengar ada orang yang menandinginya ia tidak akan senang. Ia merasa takut jika tampuk kepemimpinanya jatuh kepada saingannya dan manusia akan mengalihkan sanjungannya, sehingga ia berharap akan kematian atau hilangnya nikmat yang ada pada saingannya tersebut.

  1. Ingin paling menonjol

Orang yang selalu ingin dirinya lebih tinggi dari yang lain dan tidak mau yang lain mengunggulinya, berharap orang lain senantiasa berbakti dan tunduk kepadanya. Maka apabila ada orang yang menyamai atau menggungguinya, ia tidak ridho dan takut kalau harus berkhitmat dan menghormat kepada yang lain. Timbul dalam dirinya hasad agar nikmat Alloh SWT yang ada pada saingannya hilang.

  1. Jiwa yang kotor dan kikir

Bisa saja orang selamat dari seluruh faktor di atas. Tetapi apabila hatinya buruk dan kikir terhadap hamba Alloh yang lain, tentu dalam hatinya senantiasa bergejolak sifat-sifat buruk dari hasad, iri dan dengki. Biasanya orang yang buruk hatinya senantiasa ingin tahu keberadaan orang lain dan selalu kikir akan nikmat Alloh terhadap hamba-Nya. Seolah-olah yang lain telah mengambil nikmat dari kekuasaan dan simpanannya. Kikir bukan semata mata tidak mau mengeluarkan harta, tetapi termasuk orang yang tidak menghendaki jika nikmat Alloh ada pada orang lain.

MENYELAMATKAN DIRI DARI HASAD

Membebaskan hati dari hasad sangatlah berat. Hasad dalam jiwa manusia tidak akan pernah sirna. Dan setan akan masuk dari pintu ini untuk menggelincirkan manusia. Lalu bagaimana cara menyelamatkan diri dari hasad?

  1. Ilmu yang bermanfaat

Tidak ada jalan yang agung yang bisa Menyelamatkan diri seorang dari hasad kecuali ia tahu akan bahaya-bahaya hasad bagi pelakunya, baik terhadap dunia maupun agamanya. Adapun bahaya hasad terhadap agama adalah karena orang yang hasad seolah tidak ridho atau murka akan ketentuan Alloh dan ia menganggap pembagian Alloh tidak adil. Hal ini menyebabkan iman dan tauhidnya cacat atau rusak.

Sedangkan bahaya bagi dunia orang yang hasad adalah karena nikma Alloh sangat banyak dan tidak ada yang bisa menolaknya. Orang yang senantiasa diliputi hasad jiwanya akan tertekan setiap ia melihat kebaikan ada pada orang lain. Ia harus memahami bahwa hasad tidak bisa memudhorotkan orang lain, baik terhadap agama maupun dunianya. Sebab nikmat Alloh pasti terjadi dan tidak bisa ditolak atau dihilangkan oleh hasad seseorang.

  1. Amal sholih

Amal sholih akan menekan rasa hasad yang bergejolak dalam hati. Maka setiap kali hasad itu muncul ia harus berbuat amal yang bisa menentangnya. Jika hasad itu mengiranya untuk mencaci orang yang didengkinya, hendaklah ia memaksa lisannya untuk memuji dan menyanjungnya. Jika hasadnya itu mengiranya untuk bersikap takabur, ia harus memaksa dirinya tawadhu’ (rendah diri) dan memaafkan. Jika hasad itu mengiringnya untuk tidak memberikan kebaikan kepada sesama, hendaknya ia mengusahakan dirinya untuk memberi lebih banyak kepada orang yang dia dengki. Walaupun ia melakukan semua itu dengan terpaksa, namun ingat bahwa jiwa akan tunduk baik dengan tarbiya serta membina diri sendiri

  1. Ridho terhadap takdir

memahami bahwa takdir Allah yang telah lalu pasti terjadi. Usaha seseorang untuk memalingkan ketentuan Alloh kepada seseorang hamba adalah sesuatu yang tidak mungkin. Artinya jika Alloh berkehendak untuk memberikan nikmat pada seorang hambaNya berupa ilmu, harta, atau kedudukan, maka tidak ada seorang pun yang bisa menghalangi. Ia harus paham bahwa nikmat Allah tidak bisa dihilangkan oleh orang yang hasad. Lalu jika hasad itu tidak bisa menolak nikmat Alloh kepada seorang hamba, maka yang wajib atasnya adalah rasa senang dan ridho, sebab hasad hanya akan menyebabkan dirinya tersiksa.

  1. Zuhud terhadap dunia

Syufyan ats-Tsauri berkata “Zuhud terhadap dunia adalah pendeknya angan-angan, bukan dengan memakan makanan yang keras atau memakai pakaian mentak yang keras”(Hilyatul Auliya: 6/386).

Bagaimana zuhud terhadao dunia bisa meredam hasad? Orang yang zuhud terhadap dunia tidak  akan berlomba-lomba untuk mengdapatkannya, sehingga ia tidak akan terpengaruh oleh orang yang menyamai atau mengunggulinya. Hatinya selalu senang jika Allah menganugerahkan nikmat pada salah seorang hamba-Nya.

  1. Melihar hina dunia dan menyakini besarnya kedudukan akhirat

Diriwayatkan bahwa Nabi bersabda:

Demi alloh, tidaklah dunia dibandingkan akherat melainkan seperti salah seorang diantara kalian yang memasuk kan jarinya ke dalam laut maka perhatikanlah dengan apakah jari itu kembali”. (HR.muslim 5101)

Abu mu’awiyah al-aswad berkata “semua makhluk yang baik maupun yang jahat, bekerja untuk mendapatkan sesuatau yang lebih kecil dari pada sayap lalat” lalu seseorang bertanya kepadanya: “Apakah yang lebih kecil dari pada sayapp lalat itu?

“ Ia menjawab: “Dunia” (al-Hilya:8/273).

Apabila seseorang tahu hinanya kedudukan duniaa dibandingkan akhirat, ia tidak akan dengki terhadap nikmat Allah yang ada pada seorang hamba. Ia tidak melihat kemuliaan dengan semata-mata seorang mendapatkan tampuk kepemimpinan, harta atau sanjungan. Namun ia akan senantasa melihat besarnya hisab akhirat dan besarnya apa yang ada disisi Alloh. Hanya orang yang bodoh yang akan terpedaya oleh dunia

Oleh sebab itu, tidak ada saling dengki di antar para ulama agama ini, karena tujuan mereka adalah mengenal Allah dan mencari kedudukan di sisi-Nya sementara tidak ada kesempitan berkenaan dengan segala yang berada di sisi Allah

Tetapi manakala harta kedudukan dan sanjungan manusia yang jadi tujuan, maka hasad akan bergejolak, termasuk akan menimpa seorang ulama atau pencari ilmu. Sebab setiap ia melihat nikmat itu ada pada orang lain, ia mengira itu akan membahayakan kedudukannya.

  1. Mengambil pelajaran dari para pendahulu

Umar bin khothob pernah bertanya kepada Ali bin abi Tholib walaupun ia lebih mulia dan lebih tinggi kedudukannya. Al-imam ibnu Qoyim menyebutkan dalam kitab ar-ruh, bahwa umar bin khothob bertanya kepada ali bin abi tholib dalam tiga masalah

Al-Imam ahmad walaupunbeliau memiliki kedudukan yang tinggi dalam ilmu tetapu beliau senantiasa menyanjung al-imam asy-Syafi’i dalam banyak majelisnya. Sehingga dikisahkan, ketika ada orang yang menyebutkan bahwa ada dua orang yang menghina al-imam asy-Syafi’i, maka Imam ahmad cepat-cepat berkata:”ketahuilah, semoga Allah merohmati kalian bahwa salah seorang diantara ahli ilmu apabila Allah menganugerahkan sesuatu dari ilmu maka diharamkan oleh kawan dan teman sejawatnya mendengki dan menuduh dengan sesuatu yang tidak ada pada dirinya. Maka ini adalah merupakan satu sikap buruk yang ada pada pemilik ilmu.”(Syar A’lamun Nubala 10:45)

Mudah-mudahan Allah membingbing kita kepada jalan yang lurus dan menjauhkan kita dari setupa akhlak yang buruk. Amin

Diambil dari majalah al-Mawaddah Edisi 11 Tahun ke 1 jumadil ‘Ula jumadil Tsaniyah 1429 H/juni 2008

 

Comment here