ArtikelCerpenUstadz Fariq Gazim Anuz

UJUB PENYAKIT BERBAHAYA

Bismillaah…

UJUB, PENYAKIT BERBAHAYA!

🖍📚🖍📚🖍📚

Suatu hari Khalifah Umar bin Khathab radhiallahu anhu pernah berpidato :

“Wahai sekalian manusia,
sungguh aku ini dahulu seorang penggembala kambing milik bibiku dari Bani Makhzum, dengan upah segenggam kurma atau kismis.”

Umar lantas turun dari mimbar. Hanya itu saja yang disampaikan dalam pidatonya. Banyak sahabat yang bingung dengan pidato singkat Umar tersebut.

Abdurrahman bin Auf mendatangi Khalifah Umar dan menanyakan, “Ada apa wahai Amirul Mukminin?”

Umar menjawab, “telah datang bisikan dari jiwaku bahwa aku adalah Amirul Mukminin, pemimpin kaum Muslimin sedunia. Maka aku ingin melawan bisikan buruk ini dan mengobati jiwaku agar aku mengenali siapa diriku sebenarnya.”

Orang sekelas Umar saja tidak terhindar dari bisikan hawa nafsu yang selalu mengajak kepada keburukan. Hanya beliau segera mengekang hawa nafsunya dan cepat mengobati dari apa yang mulai terbetik di pikirannya berupa rasa ujub (bangga diri) sebelum melahirkan sifat buruk lainnya berupa kesombongan, tidak bersyukur kepada Allah, merendahkan orang lain, dan lainnya.

📚🖍📚🖍📚🖍

Ujub hukumnya haram bahkan termasuk dosa besar. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata, “Barangsiapa merealisasikan firman Allah “إياك نعبد” (Hanya kepadaMu kami beribadah), maka ia terhindar dari riya. Barangsiapa merealisasikan “وإياك نستعين”) Dan hanya kepadaMu kami meminta pertolongan, maka ia terhindar dari ujub.”
Imam Ibnul Qayyim rahimahullah menyebutkan dalam kitab Madarijus Salikin bahwa ujub itu merupakan dosa besar dan lebih besar dari dosa zina, minum khamr dan lari dari peperangan.

Orang yang ujub itu melupakan Allah, merasa apa yang ia banggakan itu berasal dari kehebatan dirinya bukan merupakan karunia, nikmat dan taufik dari Allah.
Kita sebagai hamba Allah haruslah merendahkan dan menghinakan diri kepada Allah.
Kita bukanlah apa-apa dan siapa-siapa tanpa pertolongan Allah.
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam mengajarkan kita sebuah doa,

يَا حَيُّ يَا قَيُّوْمُ بِرَحْمَتِكَ أَسْتَغِيْثُ، أَصْلِحْ لِيْ شَأْنِيْ كُلَّهُ وَلاَ تَكِلْنِيْ إِلَى نَفْسِيْ طَرْفَةَ عَيْنٍ

“Wahai Allah Yang Maha Hidup, Yang Berdiri Sendiri tidak butuh segala sesuatu, dengan rahmat-Mu aku minta pertolongan, perbaikilah segala urusanku semuanya dan janganlah Engkau serahkan urusanku kepadaku sekali pun sekejap mata.”

اللَّهُمَّ رَحْمَتَكَ أَرْجُو فَلاَ تَكِلْنِى إِلَى نَفْسِى طَرْفَةَ عَيْنٍ وَأَصْلِحْ لِى شَأْنِى كُلَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ

“Ya Allah, aku mengharapkan rahmat-Mu, janganlah Engkau sandarkan urusanku pada diriku walau sekejap mata, perbaikilah segala urusanku seluruhnya, tidak ada ilah (yang berhak disembah) selain Engkau.”

📚🖍📚🖍📚🖍

Ujub hukumnya haram berdasarkan Al Quran dan Assunnah. Allah berfirman,

لَقَدْ نَصَرَكُمُ اللَّهُ فِي مَوَاطِنَ كَثِيرَةٍ ۙ وَيَوْمَ حُنَيْنٍ ۙ إِذْ أَعْجَبَتْكُمْ كَثْرَتُكُمْ فَلَمْ تُغْنِ عَنْكُمْ شَيْئًا وَضَاقَتْ عَلَيْكُمُ الْأَرْضُ بِمَا رَحُبَتْ ثُمَّ وَلَّيْتُمْ مُدْبِرِينَ

“Sesungguhnya Allah telah menolong kalian (hai para mukminin) di medan peperangan yang banyak, dan (ingatlah) peperangan Hunain, yaitu diwaktu kalian menjadi ujub karena banyaknya jumlah(kalian), maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat kepada kalian sedikitpun, dan bumi yang luas itu telah terasa sempit oleh kalian, kemudian kalian lari kebelakang dengan bercerai-berai.” (Surat At Taubah 25)

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam dan sebagian sahabat radhiallahu anhum tetap di tempat, lalu para sahabat yang lari ke belakang segera menyadari kesalahan mereka dan bertaubat, mereka segera bergabung kembali dengan pasukan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam dan mereka mendapatkan kemenangan dan ampunan Allah.
(lihat Surat At Taubah ayat 26 dan 27)

Allah berfirman,

وَاضْرِبْ لَهُمْ مَثَلا رَجُلَيْنِ جَعَلْنَا لأحَدِهِمَا جَنَّتَيْنِ مِنْ أَعْنَابٍ وَحَفَفْنَاهُمَا بِنَخْلٍ وَجَعَلْنَا بَيْنَهُمَا زَرْعًا (32) كِلْتَا الْجَنَّتَيْنِ آتَتْ أُكُلَهَا وَلَمْ تَظْلِمْ مِنْهُ شَيْئًا وَفَجَّرْنَا خِلالَهُمَا نَهَرًا (33) وَكَانَ لَهُ ثَمَرٌ فَقَالَ لِصَاحِبِهِ وَهُوَ يُحَاوِرُهُ أَنَا أَكْثَرُ مِنْكَ مَالا وَأَعَزُّ نَفَرًا (34) وَدَخَلَ جَنَّتَهُ وَهُوَ ظَالِمٌ لِنَفْسِهِ قَالَ مَا أَظُنُّ أَنْ تَبِيدَ هَذِهِ أَبَدًا (35) وَمَا أَظُنُّ السَّاعَةَ قَائِمَةً وَلَئِنْ رُدِدْتُ إِلَى رَبِّي لأجِدَنَّ خَيْرًا مِنْهَا مُنْقَلَبًا (36) }

“Dan berikanlah kepada mereka sebuah perumpamaan dua orang laki-laki, Kami jadikan bagi seorang di antara keduanya (yang kafir) dua buah kebun anggur dan Kami kelilingi kedua kebun itu dengan pohon-pohon kurma dan di antara kedua kebun itu Kami buatkan ladang. Kedua buah kebun itu mengha­silkan buahnya, dan kebun itu tiada kurang buahnya sedikitpun, dan Kami alirkan sungai di celah-celah kedua kebun itu, dan dia mempunyai kekayaan besar. Maka ia berkata kepada kawannya (yang mukmin) ketika ia bercakap-cakap dengan dia, “Hartaku lebih banyak daripada hartamu, dan pengikut-pengikutku lebih kuat.” Dan dia memasuki kebunnya sedangkan dia zalim terhadap dirinya sendiri; ia berkata, “Aku kira kebun ini tidak akan binasa selama-lamanya, dan aku tidak mengira hari kiamat itu akan datang; dan jika sekiranya aku dikembali­kan kepada Tuhanku, pasti aku akan mendapat tempat kembali yang lebih baik daripada kebun-kebun itu.”
(Surat Al Kahfi 32-36)

Ibnu Asyuur dalam kitab tafsirnya At Tahrir Wat Tanwir berkata,
“Allah memperumpamakan bagi orang-orang musyrik dan orang-orang mukmin seperti dua orang, yang satu keadaannya bersifat ujub dan yang satunya lagi rendah hati. Orang yang (musyrik) dan ujub mengalami celaka dan kerugian dan orang yang satunya (mukmin dan rendah hati) mendapatkan kesuksesan. Itu semua agar Allah menampakkan akibat orang yang tertipu, ujub, dan sombong dengan mendapatkan kehinaan, dan orang yang beriman, rendah hati dan mengetahui sunatullah kauniyah akan memperoleh pelajaran dan hikmah sebab akibat lalu ia memilih untuk mengikuti jalan perbaikan dan kesuksesan.”
(Mausuuah Al Akhlak juz IV halaman 86)

Allah berfirman,

وَ لَا تُصَعِّرۡ خَدَّکَ لِلنَّاسِ وَ لَا تَمۡشِ فِی الۡاَرۡضِ مَرَحًا ؕ اِنَّ اللّٰہَ لَا یُحِبُّ کُلَّ مُخۡتَالٍ فَخُوۡرٍ

“Dan janganlah kamu memalingkan wajahmu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh.
Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang membanggakan diri lagi sombong.”
(Surat Luqman 18)

Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata arti” mukhtaalin” yaitu ujub terhadap dirinya dan “fakhuurin” yaitu menyombongkan diri kepada lainnya.

Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda,

ثَلاَثٌ مُهْلِكَاتٌ: شُحٌّ مُطَاعٌ وَهُوَيَ مُتَبَعٌ وَإِعْجَابٌ اْلمَرْءِ بِنَفْسِهِ

“Tiga perkara yang membinasakan: sifat syuhh (rakus dan bakhil) yang ditaati, hawa nafsu yang diikuti, dan ujub seseorang terhadap dirinya.”
(HR. Thabrani dalam Mu’jam Al-Ausath dan lainnya, dihasankan oleh Syaikh Albani)

Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam juga bersabda yang artinya,

“Ketika seorang laki-laki sedang bergaya dengan kesombongan berjalan dengan mengenakan dua burdahnya (jenis pakaian bergaris-garis; atau pakaian yang terbuat dari wol hitam), dia mengagumi dirinya, lalu Allah membenamkannya di dalam bumi, maka dia selalu terbenam ke bawah di dalam bumi sampai hari kiamat.” (HR. Bukhari dan Muslim)

📚🖍📚🖍📚🖍

Oleh : Ustadz Fariq Gasim Anuz

Referensi :
* Tafsir Ibnu katsir
* Kepemimpinan dan Keteladanan Umar bin Khathab radhiallahu anhu
* Mausu’ah Al Akhlak

Comment here