Kisah 1 – “Amal Baik Menjadi Jalan Keluar” – Untaian Mutiara Kehidupan Para Salaf

Kisah 1 – “Amal Baik Menjadi Jalan Keluar” – Untaian Mutiara Kehidupan Para Salaf

April 14, 2018 0 By Radio Kita FM Cirebon

Kisah 1
Amal Baik Menjadi Jalan Keluar

 Kesulitan dan kesusahan ibaratnya batu terjal yang menghalangi langkah hidup manusia ketika di dunia ini. Semua itu merupakan ujian bagi hamba mukmin. Dengan itu seorang hamba akan dinilai apakah dia masih tetap berada pada garis yang benar atau justru berpaling dan mengambil jalan pintas yang menyeleweng dari jalur syar’i.

Tidak sedikit orang yang kita jumpai, tatkala mereka tengah dilanda musibah dan kesulitan malah mengadukan kegundahannya kepada tukang ramal atau orang yang mengaku tahu ilmu ghaib. Adakalanya mereka berteriak histeris menyebut-nyebut orang yang mereka anggap wali demi memohon pertolongannya. Na’udzubillah min dzalik (kita berlindung kepada Alloh dari hal itu).

Kisah berikut ini menjadi contoh bagi kita tentang potret para pendahulu tatkala mereka ditimpa kesulitan dan musibah, tatkala tidak ada seorang pun yang dapat menolong kecuali Zat yang Maha Merajai alam semesta ini. Hanya kepada-Nya kita beribadah dan hanya kepada-Nya pula kita mengharap pertolongan dan perlindungan. Allohul-Musta’an.

Kisah 1 : Amal Baik Menjadi Jalan Keluer

Alkisah
Imam al-Bukhori dan Imam Muslim semoga Alloh merahmati keduanya telah mengabadikan sebuah kisah nyata dalam kitab Shohih keduanya. Kisah ini bersumber dari Sahabat Abdulloh bin Umar bin Khoththob beliau berkata: Aku mendengar Rosululloh bersabda:

Dahulu ada tiga orang dari orang-orang sebelum kalian keluar (baca: safar, melakukan perjalanan jauh) hingga sampailah di tepi gua. Mereka pun masuk ke dalam gua itu untuk singgah [1].

Tiba-tiba mereka dikejutkan. oleh bongkahan batu besar yang tergelincir dari arah gunung dan jatuhnya tepat menutup rapat pintu gua. Mereka pun berujar: “Sesungguhnya tidaklah ada yang bisa menyelamatkan kalian dari batu besar yang menghalangi ini kecuali kalian berdo’a (baca: bertawassul) kepada Alloh dengan perantara amal-amal baik kalian.”

Maka mulailah salah seorang dari mereka berdo’a: “Ya Alloh, sesungguhnya saya memiliki dua orang tua yang sudah tua renta. Saya tidak ingin mendahulukan siapa pun daripada keduanya. Suatu ketika saya keluar menggembalakan kambing ke tempat yang lebih jauh dari biasanya sehingga saya tidak kembali melainkan mereka sudah terlelap tidur. Seperti biasanya, saya memerahkan susu untuk keduanya. Akan tetapi, saya mendapati keduanya telah tertidur pulas. Aku tidak ingin membangunkan keduanya dan tidak pula ingin mendahulukan istri dan anak-anakku sebelum keduanya meminum susu perahanku. Maka malam pun meliputiku sedang gelas berisi susu itu pun tetap berada di tanganku. Aku menunggu keduanya bangun hingga terbit fajar sedang anak-anakku merengek, merintih kelaparan di sisi kedua kakiku. Setelah bangun dari tidur keduanya meminum susu perahanku tersebut. Ya AIIoh, seandai-nya Engkau tahu[2] bahwa yang aku lakukan itu adalah ikhlas hanya mengharap keridhoan-Mu maka keluarkanlah kami dari kesulitan akibat batu besar itu.” Maka batu itu pun bergeser sedikit namun mereka belum bisa keluar.

Kemudian seorang yang lainnya berkata: “Ya Alloh, sesungguhnya aku menyukai putri pamanku. la adalah wanita yang paling aku cintai[3]. Aku sangat menginginkan dirinya[4] tetapi ia enggan terhadapku. Musim kemarau pun datang tahun demi tahun, tiba-tiba ia datang kepadaku. Aku memberinya 120 dinar dengan harapan agar dia mau memberikan dirinya dan menyepi bersamaku, maka hal itu pun ia lakukan. Tatkala aku telah mampu untuk melampiaskan keinginanku terhadapnya[5], ia berkata: ‘Bertakwalah kepada Alloh. Janganlah engkau urai cincin’[6] kecuali dengan haknya.’ (Demi mendengar perkataannya) aku langsung beranjak, berpaling darinya, padahal dia adalah wanita yang paling aku cintai. Dan emas yang kuberikan kepadanya pun aku tinggalkan. Ya Alloh, seandainya yang aku lakukan itu ikhlas hanya mengharap keridhoan-Mu maka keluarkan kami dari apa yang menimpa kami ini.” Maka batu besar itu pun bergeser. Meski demikian, mereka belum bisa keluar dari gua tersebut.

Berkatalah orang yang ketiga: “Ya Alloh, sesungguhnya saya mempekerjakan banyak pekerja. Saya telah memberikan upah kepada mereka semua, kecuali satu orang pekerja. Dia justru meninggalkan upahnya dan pergi begitu saja entah ke mana. Maka aku pun mengembangkan hartanya tersebut sampai harta itu melimpah ruah. Selang beberapa waktu, tiba-tiba ia datang kepadaku seraya mengatakan: ‘Wahai hamba Alloh, serahkan kepadaku upahku (hasil kerjaku yang dulu, Pen).’ Aku katakan kepadanya: ‘Semua harta yang engkau saksikan, baik unta, sapi, dan kambing-kambing serta budak itu seluruhnya adalah hartamu.’ Maka dia balik menimpaliku: ‘Wahai hamba Alloh, jangan mempermainkanku!’ Aku katakan: ‘Sama sekali aku tidak bergurau denganmu.’ Kemudian ia pun menggiring dan mengambil semua harta itu tanpa menyisakan sedikit pun. Ya Alloh, seandainya yang aku lakukan itu adalah ikhlas hanya mengharap keridhoan-Mu maka keluarkanlah kami dari kesulitan yang menimpa kami ini.” Maka batu besar itu pun bergeser sehingga mereka dapat berjalan keluar dari mulut gua.

Kisah di atas diriwayatkan oleh Imam al-Bukhori pada beberapa tempat di dalam kitab Shohih-nya, di antaranya di dalam Kitabul-Buyu’ Bab Idza isytaro syai’an lighoirihi bighoiri idznihi farodhiya (2272) dan Imam Muslim dalam Kitabu Dzikri wa Du’a Bab Qishshotu ashabil ghor ats-tsalat-sah (2743).

Ibroh

Alloh Robbul’alamin (Robb alam semesta) telah berfirman dalam ayat-Nya:

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا 

Barang siapa bertakwa kepada Alloh niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. (QS. ath-Tholaq [65]: 2)

Ini adalah janji Alloh yang pasti diberikan kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya. Dan Alloh tidaklah akan nyelisihi janji-Nya.

Tatkala terkurung dan terpenjara di dalam gua tersebut mereka tidak bisa berbuat banyak untuk dapat keluar dari-nya. Tidak ada jalan untuk meminta bala bantuan kepada kaumnya. Alat-alat komunikasi pada zaman dahulu tidak secanggih yang dijumpai pada zaman kita sekarang. Bukanlah perkara yang mudah bagi sanak famili dan keluarga bila ingin mencari orang-orang hilang ini karena bekas dan jejak mereka telah hilang diterpa derasnya hujan badai yang mengguyur daerah itu. Bahkan sekalipun melewati tempat (gua) tersebut para pencari tidak akan merasa curiga bila ternyata orang yang mereka cari terkurung di dalam gua. Yang demikian itu karena mereka hanya mendapati sebong-kah batu besar, tidak terlihat adanya celah dan lubang yang mungkin dimasuki manusia.

Kisah 1 : Amal Baik Menjadi Jalan Keluer

Pada keadaan yang seperti itu seorang hamba akan merasa yakin bahwa tidak ada yang dapat menyelamatkan dirinya kecuali hanya Alloh semata. Dan memang hanya Alloh Subhanahu wa Ta’ala saja yang mengetahui tempat terkurungnya mereka. Sungguh Dia adalah Zat yang Maha Melihat dan Maha Mendengar. Tidaklah tersamar pada diri Alloh sedikit pun semua kejadian sekalipun di kegelapan langit dan bumi. Keadaan mereka seperti seorang yang tengah mengarungi bahtera yang dihantam badai lautan pada hari yang gelap gulita. Mereka tidak berdaya untuk menyelamatkan diri-diri mereka sendiri. Keadaan mereka seperti seorang yang tengah terkena gempa dahsyat yang menghancurkan seluruh bangunan dan rumah-rumah mereka sehingga atap-atap rumah berhamburan runtuh mengenai diri mereka. Tatkala itu mereka benar-benar dalam keadaan panik, sesak dada lantaran ketakutan menghadapi bahaya yang tengah menimpa.

Sesungguhnya seorang hamba bila tengah ditimpa seperti pada keadaan di atas—kendati ia seorang yang fasik—pasti akan kembali kepada Robb mereka untuk meminta dan memohon pertolongan-Nya. Karena Dialah yang Maha Mampu di kala seluruh manusia dalam keadaan lemah. Dialah yang Maha Menjaga di kala seluruh manusia tidak berdaya. Alloh Subhanahu wa ta’ala berfirman:

وَإِذَا غَشِيَهُمْ مَوْجٌ كَالظُّلَلِ دَعَوُا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ

Dan apabila mereka dilamun ombak yang besar seperti gunung, mereka menyeru Alloh dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya…. (QS. Luqman [31]: 32)

Alloh berfirman:

هُوَ الَّذِي يُسَيِّرُكُمْ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ ۖ حَتَّىٰ إِذَا كُنْتُمْ فِي الْفُلْكِ وَجَرَيْنَ بِهِمْ بِرِيحٍ طَيِّبَةٍ وَفَرِحُوا بِهَا جَاءَتْهَا رِيحٌ عَاصِفٌ وَجَاءَهُمُ الْمَوْجُ مِنْ كُلِّ مَكَانٍ وَظَنُّوا أَنَّهُمْ أُحِيطَ بِهِمْ ۙ دَعَوُا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ لَئِنْ أَنْجَيْتَنَا مِنْ هَٰذِهِ لَنَكُونَنَّ مِنَ الشَّاكِرِينَ

Dialah Alloh yang menjadikan kamu dapat berjalan di daratan dan (berlayar) di lautan. Sehingga apabila kamu berada di dalam bahtera, dan meluncurlah bahtera itu membawa orang-orang yang ada di dalamnya dengan tiupan angin yang baik, dan mereka bergembira karenanya, datanglah angin badai, dan (apabila) gelombang dari segenap penjuru menimpanya, dan mereka yakin bahwa mereka telah terke-pung (bahaya), maka mereka berdo’a kepada Alloh dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya semata-mata. (Mereka berkata): “Sesungguhnya jika Engkau menyelamatkan kami dari bahaya ini, pastilah kami akan termasuk orang-orang yang bersyukur.” (QS. Yunus [10]: 22) Alloh telah mengeluarkan mereka dari kesulitan dan malapetaka. Alloh menyingkap kesesakan jiwa dan bahaya yang meliputi mereka. Segala puji bagi Alloh Robb alam semesta.

Mutiara Kisah[7]

Kisah di atas mengandung banyak sekali faedah dan mutiara hikmah, di antaranya:

1. Disyari’atkannya seseorang untuk ber-tawassul kepada Alloh dengan amalan-amalan yang sholih. Disyari’atkan pula ber-tawassul kepada-Nya dengan nama-nama dan sifat-sifat-Nya yang agung dan juga ber-tawassul dengan do’anya orang sholih yang masih hidup. Adapun bertawas-sul dengan jasad para nabi dan para wali, serta kubur-kubur mereka adalah sama sekali tidak ada asalnya bahkan itu merupakan perbuatan bid’ah yang sesat.

2. Disyari’atkannya seseorang untuk berdo’a kepada Alloh tatkala ditimpa musibah dan kesulitan, dan bahkan Alloh murka terhadap seorang yang tidak berdo’a dan mengadukan perkaranya kepada Alloh

Alloh Subhanahu wa ta’ala berfirman:

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ ۚ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ

Dan Robbmu berfirman: “Berdo’alah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina.” (QS. al-Mukmin [40]: 60)

Dan termasuk sebab terkabulnya do’a adalah ikhlas dan menghadirkan hati serta ingat kepada Alloh di kala lapang, sehingga Alloh akan mengingat kita di kala tertimpa kesulitan. Inilah yang disabdakan Rosululloh “…. Ingatlah kepada Alloh di kala lapang, niscaya Alloh akan mengingatmu di kala tertimpa kesempitan….”[8]

3. Besarnya keutamaan birrul-walidain (berbuat baik kepada kedua orang tua). Inilah perbuatan yang sangat dicintai oleh Alloh , yang dapat menyelamatkan seorang hamba pada saat dilanda kesulitan-kesulitan dunia dan akhirat.

4. Keutamaan orang yang menjaga diri dari perbuatan zina padahal mampu melakukannya. Ini adalah amalan mulia bahkan termasuk amalan salah satu golongan yang akan mendapat naungan-Nya pada hari tatkala tidak ada naungan kecuali naungan-Nya. Sebagaimana tersebut dalam hadits, di antaranya: “… seorang laki-laki yang diajak berbuat mesum dengan seorang wanita cantik lagi berkedudukan, kemudian ia mengatakan: `Sungguh aku takut kepada Alloh.'” (HR. al-Bukhori: 660 dan Muslim: 1031)

5. Keutamaan orang yang memiliki sifat amanah, jujur, dan suka berbuat baik kepada orang lain. Alloh tidak akan menyianyiakan pahala orang yang berbuat kebaikan.

6. Keberkahan pekerjaan di bidang pertanian dan peternakan di mana si pemilik tanah itu mengembangkan harta yang dimiliki oleh salah satu pekerjanya, kemudian harta itu berkembang menjadi banyak bahkan berlipat-lipat jumlahnya.

Wallohu A’lam (Allohlah yang lebih tahu).

 


 

Kisah 1 : Amal Baik Menjadi Jalan Keluer
Catatan :
1. Dalam satu riwayat, mereka masuk gua karena hujan lebat yang mengguyur daerah setempat (HR. Muslim: 17/424 no. 2743).
2. Ini sama sekali bukan berarti ragu dengan kesempurnaan ilmu Alloh. Seorang mukmin yakin dengan pasti bahwa Alloh mengetahui itu semua. Dan kita pun tidak ragu bahwa orang tersebut adalah seorang mukmin. Hanya, ia ragu terhadap amalannya tersebut, apakah diterima di sisi Alloh ataukah tidak. Beginilah sifat seorang mukmin, selalu merasa khawatir kalau-kalau amalannya itu tidak diterima.

3. Dalam satu riwayat: “Saya sangat menyukai dia sebagaimana seorang pemuda yang sedang dimabuk cinta kepada seorang wanita pujaannya.” (HR. Muslim: 17/424)

4.Maksudnya: “Aku sangat menginginkan dirinya untuk melayaniku sebagaimana seorang suami yang menginginkan istrinya.”

5. Dalam satu riwayat: “Tatkala aku telah duduk di antara dua kakinya.” (HR. Muslim: 17/424)

6. Ini merupakan kinayah (ungkapan halus) dari farji wanita atau selaput dara (keperawanan) wanita.  Maksudnya: “Janganlah kau ambil kesucianku kecuali dengan nikah yang syar’i.”

7. Syarah Riyadhush-Sholihin: 1/67-72, Bahjatun-Nazhirin: 1/46-49, dan Shohih Qoshosh an-Nabawi kar. Sulaiman al-Asyqor: 210.

8. Lihat al-Mujamul Kabir kar. ath-Thobroni: 9/423.

Disalin dari Buku Untaian Mutiara Kehidupan Para Salaf – Sholahuddin Abu Faiz bin Mudasim.