Informasi

Etika Memberi Nama Bag.1

Spread the love

mendidik buah hati

Alhamdulillah.. sang buah hati kini sudah lahir dan melihat dunia. Puji syukur kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang sudah memberikan amanah buah hati yang sehat dan lucu kepada setiap orang tua. Salah satu kewajiban orang tua ketika anak lahir adalah memberi nama yang baik untuk sang anak.

Nama adalah ciri atau tanda. Maksudnya, orang yang diberi nama dapat mengenal dirinya atau dikenal oleh orang lain. Nama juga merupakan tanda yang dapat mengungkap identitas orang tuanya dan alat pengukur terhadap pemahaman agamanya.

HUKUM PEMBERIAN NAMA

Allah Subhanahu Wa Ta’ala menuntunkan kepada keturunan Adam untuk memberikan nama pada anak, sebagaimana Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah memberi nama “Yahya” kepada putra Nabi Zakariyya yang akan dilahirkan. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

“Hai Zakariyya, sesungguhnya Kami memberi kabar gembira kepadamu akan (beroleh) seorang anak yang namanya Yahya, yang sebelumnya Kami belum pernah menciptakan orang serupa dengannya.” (Maryam: 7)

Anak yang tidak memiliki nama tidak akan dikenal (majhul) dan tersamarkan dengan yang lainnya, tidak bisa dibedakan, karena nama berfungsi untuk menentukan, membedakan, dan mengenali si anak.

WAKTU PEMBERIAN NAMA

Sunnah Nabi Shalallahu ‘alaihi Wassalam telah menjelaskan bahwa waktu pemberian nama itu ada 3 macam:

  1. Pada hari kelahirannya.
  2. Pada hari ketiga dari kelahirannya
  3. Pada hari ketujuh dari kelahirannya.

Perbedaan ini hanya bersifat ikhtilaf tanawwu’ (perselisihan yang ditoleransi) yang menunjukkan bahwa dalam persoalan ini ada kelonggaran.

YANG BERHAK MEMBERI NAMA

Sang Ayah adalah orang yang paling berhak untuk menamai anaknya. Jika seorang Ayah berbeda pendapat dengan seorang Ibu dalam menentukan nama untuk anaknya, maka Ayah lah sebagai pihak yang diutamakan.

Berdasarkan hal tersebut, maka seorang ibu hendaknya tidak membantah dan menyelisihi. Sementara dalam musyawarah antara kedua orang tua terdapat suatu kesempatan yang luas untuk saling meridhai, berlemah lembut, dan memperkokoh tali hubungan antar keluarga.

Sebagaimana yang telah diriwayatkan dengan shahih dari sekelompok sahabat bahwa mereka biasa menyodorkan putra-putri mereka kepada Nabi Shalallahu ‘alaihi Wassalam agar beliau berkenan memberikan nama. Hal ini menunjukkan bahwa seorang Ayah hendaknya bermusyawarah dalam memberikan nama dengan seorang ulama yang mengetahui tentang sunnah atau ahlussunnah yang terpercaya dalam agama dan ilmunya agar menunjukkan kepadanya sebuah nama yang baik bagi anaknya.

NISBAH ANAK

Nama seorang anak juga dinisbahkan (disandarkan) kepada ayahnya, bukan kepada ibunya, dan dia dipanggil dengan nama ayahnya, bukan dengan nama ibunya, Maka dalam penulisan nama, biasa disebut “fulan bin fulan”, dan bukan dipanggil “fulan bin fulanah”

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
“Panggillah mereka (anak-anak angkat) itu dengan (memakai) nama bapak-bapak mereka; itulah yang lebih adil pada sisi Allah …” (al-Ahzab:5)

Namun ada kenyataan bahwa terjadi penghilangan lafazh “ibnu” pada nama fulan ibnu fulan dan ini mulai menyebar di kalangan muslimin pada abad 14 Hijriyah, sehingga mereka mengatakan, Misalnya Muhammad ‘Abdullah.

Ini merupakan uslub (tata bahasa) yang dibuat-buat, asing, tidak dikenal oleh bangsa Arab, dan tidak sesuai dengan lisan mereka, bahkan tidak memiliki kedudukan dalam bahasa Arab (I’rab)

Apakah dunia telah mendengar seseorang yang menyebut nasab Nabi Shalallahu ‘alaihi Wassalam dengan mengatakan Muhammad ‘Abdullah?

Lihatlah bagaimana penghilangan (lafazh ibnu) ini telah mengundang kesamaran ketika disatukan antara nama laki-laki dengan perempuan, sebagai contoh Asma’ dan Kharijah. Nama ini tidak akan jelas di atas kertas, kecuali dengan menyambungkan nasab dengan lafazh “ibnu” fulan atau “binti” fulan.

Terdapat pula kekeliruan para istri yang menyandarkan namanya kepada suami. Misalnnya Fathimah bin ‘Abdullah, setelah menikah dengan Ahmad maka ia menyandarkan namanya menjadi atimah Ahmad. Ini banyak dijumpai di masyarakat umum.

bersambung,

(Dari Rubrik Adab Akhlaq Yaa Bunayya Majalah Sakinah)

Comment here