Informasi

Kisah Shahabiyah Ummu Salamah radhiallahu ‘anha

Spread the love

Ummu Salamah

Penulis : Ustadz Hamzah Ta ’adi

          Namanya adalah hindun binti Abi Umayah bin Mugfirah bin Abdullah bin Ibnu Makhzum bin Makhuzumiyah  Al-Quraisyiah, dan kunyahnya yaitu Ummu Salamah radiallahu anha, indah sekali nama dan nasabnya .

          Beliau adalah keponakan Kholid bin Al Walid Saifullah dan keponakan Abu Jahal bin hisyam. Ayah beliau adalah seorang pembesar Bani Makhzum yang terpandang. Termasuk salah seorang kaum dermawan Arab yang terkenal, sehingga dijuluki dengan Zabur Rakib (Bekalnya seorang musafir).

          Ayahnya dengan ringan hati selalu membekali para musafir yang datang kerumahnya,begitu juga yang pergi bersamanya.

          Ummu Salamah menikah dengan sepupunya Abdullah bin Asad bin Hilal bin Abdillah bin Amr bin Makhzum bin Murrah bin Ka’ab bin Al Azadi. Suami istri dari bani Makhzum dan Bani Asad ini termasuk sepuluh orang yang pertama kali masuk islam. Kaum Quraisy marah, mendengar keislaman Ummu Salamah dan suaminya, mulailah mereka melancarkan ancaman dan siksaan yang berat terhadap keduanya. Namun berat dan kejamnya siksaan kaum Quraisy tak menjadikan keduanya mundur dan lemah, mereka tetap berada pada jalan Rasulullah shalallahu ‘alahi wasalam

          Setelah siksaan terasa bertambah keras dan dahsyat, kemudian Rasulullah mengijinkan para sahabatnya untuk hijrah ke Habasyah Ummu Salamah dan suaminya termasuk barisan muhajirin yang pertama mereka berdua meninggalkan kota Mekkah tanah kelahiran mereka juga meninggalkan kemewahan,kemegahan,kemuliaan,kebangsawanan yang telah melekat pada identitas mereka ketika di Mekkah, yakni demi menggapai ridho dari Allah semata. Ketika beliau di Habasyah tersebar berita bahwa muslimin di Mekkah bertambah jumlahnya dan bahwasannya keislaman Hamzah bin Abdul Mutholib dan Umar bin Khotob membuat mereka jadi kuat. Siksaan dan ancaman kaum Quraisy sedikit berkurang. Mendengar berita gembira itu. Sebagai mereka bertekad untuk kembali ke kota kelahiran mereka.

          Sekembalinya ke kota Mekkah, ternyata kabar dengan kenyataan tidak sesuai. Siksaan bukannya berhenti dengan islamnya Hamzah dan Umar, bahkan siksaan bertambah keras dan kejam kekejaman demi kekejaman, siksaan demi siksaan di timpakan kaum musyrikin kepada kaum muslimin. Tak bisa digambarkan siksaan bertambah keras, bahkan melebihi siksaan – siksaan sebelumnya

          Melihat hal ini Rasulullah shalallahu ‘alahi wasalam mengijinkan para sahabatnya untuk berhijrah ke Madinah maka berangkatlah Ummu Salamah dan suaminya untuk menyemangatkan agamanya. Akan tetapi ternyata hijrah itu tidak semudah yang ia bayangkan. Kesedihan dan kesulitan menerpa silih berganti. Menguji dan menuntut makna kesabaran.

          Menoleh sejenak kisah hijrah Ummu Salamah ke Madinah, Ummu Salamah menceritakan kisah tragi situ sendiri…. Pilu dan ngilu itulah yang ia rasakan tak terbayangkan apalagi tergambarkan.

          Ummu Salamah mengisahkan : Tatkala Abu Salamah bertekad berhijrah ke kota Madinah, ia menyiapkan unta untuk ku, ia pun menaikanku keatasnya dan membawaku. Anak kami Salamah dalam pangkuanku dan tanpa di tunda – tunda berjalanlah ia dengan menuntun unta. Dan sebelum kami keluar dari Mekkah sekelompok kaum dari Bani Makhzum melihat dan menghalangi kami, dan mereka berkata kepada Abu Salamah. “Jika hanya kamu yang pergi kami tidak kuasa mencegahmu, tetapi bagaimana dengan istrimu sedangkan ia adalah putri kami. Tidak akan pernah kami membiarkan kalian membawanya ke negeri asing!”

          Mereka lalu melompat dari kendaraan dan merebutku suamiku melihat aku diambil oleh kaumku, mereka sangat marah dan berkata. “Demi Allah kami tidak akan membiarkan kalian membawa anak itu.Kalian telah merebut dari kami,dia anak kami, kami lebih berhak!” kata Bani As’ad kepada Bani Makhzum. Akhirnya mereka mulai memperebutkan Salamah di hadapan kami. Lepaslah Salamah dari Bani Makhzum dan di ambil oleh Bani As’ad. Saat itu kami merasa kesepian yang teramat sangat, kesediah memenuhi hatiku,suamiku melanjutkan langkah penyemangat ke Madinah. Kaumku tiada lepas mengawasiku hingga setiap pagi aku keluar suatu tempat. Tempat dimana air mengalir dengan teratus, tempat yang menjadi saksi kesedihan dan gulanaki. Dan aku duduk lama di tempat itu, mengenang kembali saat – saat yang menyebabkan aku menangis sampai menjelang malam.

          Rutinitas itu aku lakukan selama hamper satu tahun sampai suatu ketika seorang laki-laki dari bani (anak keturunan) pamanki melewatiku, melihat kondisiku,lahirlah rasa iba di hatinya, akhirnya dia berkata kepada bani kaumku “Apakah kalian tetap pada pikiran kalian, tidak mengijinkan pada wanita miskin ini pergi, sungguh kalian telah memisahkan ia dari suaminya dan anaknya!”

          Berulang kali kata – kata tersebut dilontarkan oleh lelaki tersebut. Membuat kaumku marah karenanya, dan berkata kepadaku.”Susullah suamimu jika kamu mau!” akan tetapi bagaimana aku bisa menyusul suamiku ke Madinah sedangkan anakku di Mekkah bersama Bani As’ad

“Bagaimana aku bisa tenang dalam himpitan kepedihan, dalam linangan air mata yang tidak juga mengering, ketika anakku di Mekkah sedangkan aku di negeri hijrah Madinah tanpa mendengar kabarnya sedikitpun? “

          Sebagian orang yang padam tentang gundah dan galaunua kondisiku menyimpan rasa iba yang mendalam. Mereka berbicara dengan Bani As’ad dan memohon belas kasihan agar mau mengembalikan anakku Salamah ke pangkuanku. Betapa bahagia dan bersyukur saat anakku bisa kembali ke pangkuanki.

          Aku tidak ingin belama-lama di Mekkah sampai aku menemukan orang yang mau menemaniku ke Madinah. Aku khawatir terjadi sesuatu yang tidak di inginkan hingga menghalangiku bertemu suami. Aku segera menyiapkan unta, kubimbing Salamah di pangkuanku, aku keluar dari Mekkah tanpa seorangpun bersamaku

          Setelah sampai di Tan’im aku bertemu Ustman bin Tholhah, ia bertanya kepadaku “Hendak kemana wahai putri Zabur Rakib?” Aku menjawab.”Aku ingin menyusul suamiku ke Madinah” dia bertanya apa ada orang bersamamu dan menemanimu?” Aku menjawab “Demi Allah aku hanya bersama Allah dan anak ku yang ada di pangkuanku.” Dia berkata” Demi Allah aku tidak akan membiarkanmu sendirian sampai engkau sampai di Madinah.” Kemudian dia memegang tali untaku dan berjalan cepat membawaku.

          Demi Allah aku tidak pernah mendapatkan seorang arab yang lebih mulia dari pada dia. Apabila singgah di suatu tempat dia menambatkan untaku, kemudian menjauh dariku sampai turun dari untaku. Kemudian dia menepi di bawah pohon dan beristirahat disana.

          Apabila ia meneruskan perjalanan ia bangun menyiapkan untaku dan mendekatkan kepadaku, kemudian menjauhiku sambal berkata “naiklah” setelah naik dia mengambil tali unta dan menuntunnya.

          Sedemikian rupa ia memperlakukan aku seperti itu sampai kami telah tiba di Madinah. Setelah melihat sebuah perkampungan di Quba, perkampungan Umar bin Auf dia berkata “suamimu di kampum ini masuklah!” kemudian dia kembali ke Mekkah.

          Ummu Salamah bertemu suaminya di Madinah setelah lama berpisah. Bahagia bersama dan naungan keluarga mukmin yang patuh, menjalani detik demi detik, hari demi hari berlalu dan melintaslah kejadian- kejadian dengan cepat, pada perang badar, abu Salamah ikut dan pulang dengan membawa kemenangan gemilah bersama para sahabat.

          Akan tetapi dalam perang Uhud, ia kembali dengan membawa parahnya luka,sehingga ia terus diobati . Ketika hamper sembuh, tiba-tiba luka itu kambuh lagi menyebabkannya harus berbaring di tempat tidur. Ketika Abu Salamah menjalani masa pengobatan ia mendengar Rasulullah telah bersabda :”Tidaklah seorang muslim tertimpa musibah, maka ia mengucapkan Innalillahi wa inna ilahiroji’un (sesungguhnya kita milik Allah dan hanya kepadanya kita kembali). Kemudian dia berdoa’a, Ya Allah berilah aku pahala dari musibah ini dan gantilah untuk ku dengan yang lebih baik, Kecuali Allah akan menggantikannya dengan yang lebih baik.”

          Abu Salamah bergelak sakit , tak berdaya di tempat tidur selama beberapa waktu . Suatu pagi, Rasulullah menjengukku. Dan demikian hampir tak pernah Rasulullah melewatkan satu waktu pun pasti beliau mengetuk pintu rumah Abu Salamah untuk menjenguknya hingga ia wafat.

          Setelah Abu Salamah meninggal, Ummu Salamah menghadapi ujian itu dengan jiwa yang di penuhi dengan keimanan dan kesabaran. Beliau ingat do’a Rasulullah yang di riwayatkan oleh Abu Salamah , kemudian dia bertanya “siapakan orang yang lebik baik dari Abu Salamah?”

          Setelah habis masa indahnya, ada beberapa sahabat utama yang datang kepadanya untuk melamarnya termasuk Abu Bakar dan Umar tetapi Ummu Salamah menolaknya.

          Kemudian datanglah Rasulullah melamarnya. Ummu Salamah mengungkapkan ke khawatiran ketika Rasulullah shalallahu ‘alahi wasalam melamarnya . Dia berkat kepada Nabi, “ Rasulullah pada diriku ada tiga sifat : pertama aku wanita pencemburu,dan aku khawatir dari diriku engkau melihat sesuatu yang membuat engkau marah, maka engkau mengadzabku.

          Kedua aku adalah wanita yang telah melewati batas umur nikah. Dan ketiga aku banyak mempunyai tanggungan keluarga. Mendengar itu Rasulullah bersabda : “ Apa yang telah engkau sebutkan tentang rasa cemburumu,aku berdo’a kepada Allah agar Allah menghilangkannya darimu, tentang umur aku lebih tua darimu, dan keluargamu akan menjadi tanggungan Allah dan Rasulnya.”

          Akhirnya Ummu Salamah pasrah kepada Allah dan menerima pinangan Rasulullah. Dalam hatinya ia berkata “Sesungguhnya Allah menggantikan Abu Salamah dengan seorang yang lebih baik yaitu Rasulullah .”

          Menikahlah Ummu Salamah dengan Rasulullah, sejak saat itu Hindun Al Makhzumiyyah tidak lagi menjadi ibu dari seorang putri tunggalnya Salamah namun ia menjadi ibunda dari seluruh kaum mu’minin

          Sungguh sangat agung amalah Ummu Salamah penganugrahan ke tegaran dan kesabaran dari Allah yang pantas di teladani, keberanian dan kecerdasannya selalu memberi dukungan kepada suami hingga menyejukan setiap pandangan.

 Maroji :

  1. Al Bidayah Wanihayah Ibnu Katsir
  2. Shuwarun min Hayatish Shahabah Dr.Abdurahman Ra’faat Basya

 

Comment here