Informasi

Membaca Al-Qur’an Saat Haid dan Nifas

Spread the love

Pertanyaan:

Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh.

Ustad yang dirahmati Allah, ada beberapa point yang ingin saya tanyakan:

  1. Siapa saja yang disebut dengan mahram, pengertian mahram itu sendiri apa? Karena sepengetahuan saya mahram adalah orang yang tidak boleh dinikahi dan membatalkan wudhu, untuk itu jika suami istri dalam keadaan wudhu apabila bersentuhan (memegang tangan atau wajah atau selain dubur dan qubul dengan atau tanpa sengaja) termasuk hal yang membatalkan wudhu apa tidak?
  2. Larangan apa saja yang diperuntukkan bagi wanita yang sedang haid atau nifas? Bagaimana hukumnya menyentuh atau membaca Al-Qur’an? Apabila membaca Al-Qur’an tidak diperbolehkan lalu amalan apa yang bisa dikerjakan oleh wanita yang sedang udzur tersebut. Menurut pendapat yang sahih berapa lama dan sedikitnya (hari) wanita mengalami haid.
  3. Bagaimana hukum membaca Basmallah (dibaca dengan Jahr atau bersuara) ketika mengerjakan shalat, baik dalam membaca Al-Fatihah meupun dalam membaca surat?

Mohon jawaban disertai dalil yang ada, sebelum dan sesudahnya saya ucapkan jazakumullah khairan.

Wassalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh.

Jawaban:

Alhamdulillah, washshalaatu wassalaamu ‘ala rasulillah, wa’alaa aalihi waman tabi’a hudaah.

Pertama, yang dimaksudkan dengan mahram, adalah orang yang haram menikah dengannya karena persaudaraannya dan kekerabatannya. Di dalam hadits disebutkan, “Seorang perempuan tidak boleh bepergian kecuali bersama mahramnya.”

Artinya orang yang tidak halal menikah dengannya untuk selamanya dari kalangan kerabat seperti bapak, anak, saudara laki-laki, saudara laki-laki bapak dan orang-orang yang menduduki kedudukan mereka. Di dalam kitab Al-Mughni karya Ibnu Qudamah al-Hambali ditambahkan, “Atau dari persusuan atau periparan.”

Adapun wanita disentuh laki-laki dan sebaliknya tidak termasuk perkara yang membatalkan wudlu. Karena para ulama bersepakat, bahwa pembatal wudlu antara lain:

  1. Sesuatu yang keluar dari dua jalan, seperti air kencing, kotoran, angin, madzi, wadi, dan mani. Semua ini tergolong pembatal wudlu menurut ijma’ ulama seperti dikatakan Ibnu Qudamah. Dan juga darah
  2. Keluarnya sesuatu yang najis dari anggota badan yang lain. Jika berupa air kencing atau kotoran buang air besar, maka membatalkan wudlu, sedikit ataupun banyak. Kalau selain air kencing dan kotoran seperti darah yang banyak, muntahan yang banyak, nanah yang banyak, atau yang semisalnya, maka dikatakan hal itu membatalkan wudlu.
  3. Hilangnya akal karena tidur atau yang lainnya seperti penyakit gila, pingsan, mabuk, atau karena pengaruh obat yang dapat menghilangkan kesadaran.
  4. Menyentuh alat kemaluan dengan tangan secara langsung, baik alat kemaluan ataupun dubur.
  5. Makan daging onta.
  6. Murtad dari Islam.

Jadi disentuh oleh lawan jenis tidak termasuk dalam pembatal wudlu. Kalau ada yang mengatakan batal wudlunya dengan dalil firman Allah,

أَوْ لَامَسْتُمُ النِّسَاءَ

“Atau kalian menyentuh wanita.” (Al-Maidah: 6)

Maka ulama –semoga Allah merahmati mereka- berbeda pendapat tentang makna kalimat au laamastum an-nisaa (atau kalian telah menyentuh perempuan). Sebagian memahami bahwa yang dimaksud adalah segala bentuk sentuhan. Sebagian lain memahami, bahwa yang dimaksud adalah sentuhan yang menimbulkan syahwat. Yang lain lagi memahami, bahwa yang dimaksud adalah jima’ (bersetubuh), ini adalah pendapat Ibnu Abbas. Jika Anda perhatikan ayat tersebut, engkau lihat bahwa kebenaran ada di pihak yang memahami dengan arti jima’ (bersetubuh).

Karena Allah menyebutkan ada dua jenis dalam bersuci dengan air, pertama dari hadats kecil dan kedua dari hadats besar. Tentang bersuci dari hadats kecil, Allah Ta’ala berfirman,

فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُوا بِرُءُوسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَيْنِ

“Maka basuhlah wajah kalian dan tangan kalian hingga siku dan usaplah kepala kalian dan basuhlah kaki kalian hingga dua mata kaki.” (Al-Maidah: 6)

Sedangkan bersuci dari hadats besar diceritakan dengan firman-Nya,

وَإِنْ كُنْتُمْ جُنُبًا فَاطَّهَّرُوا

“Dan jika kalian tertimpa junub, maka bersucilah…” (Al-Maidah: 6)

Sebagai tindak lanjut penyampaian dan penjelasan tersebut, disampaikan juga dua kewajiban bersuci yang bisa dilakukan dengan cara tayamun, Allah Ta’ala berfirman,

أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ أَوْ جَاءَ أَحَدٌ مِنْكُمْ مِنَ الْغَائِطِ

“Atau jika salah seorang dari kalian datang dari buang air besar.” (Al-Maidah: 6)

Ayat ini mengisyaratkan adanya kewajiban bersuci dari hadats kecil. Sedang yang mengisyaratkan adanya kewajiban bersuci dari hadats besar adalah firman Allah Ta’ala, “Atau telah menyentuh wanita.” (Al-Maidah: 6)

Jika kita mengartikan mulamasah (menyentuh) di sini secara harfiah atau tekstual, tentu di dalam ayat akan disebutkan dua kewajiban bersuci dari hadats kecil tanpa disinggung sedikitpun tentang bersuci dari hadats besar. Hal ini bertentangan dengan konsekuensi balaghah dalam Al-Qur’an. Pihak yang mengartikan dengan segala bentuk sentuhan secara mutlak berkata, “Jika seorang laki-laki menyentuh wanita dengan disertai syahwat, wudlunya batal, namun bila tanpa syahwat, tidak batal.” Yang benar adalah kedua kondisi tersebut tidak membatalkan wudhu. Hal ini sesuai dengan riwayat yang menceritakan bahwa Rasulullah pernah mencium salah satu istrinya, kemudian pergi shalat tanpa mengulang wudhu. Juga ada riwayat dari jalan periwayatan lain yang bersifat memperkuat dalil tersebut.

Kedua, wanita yang sedang haid dilarang melakukan delapan perkara:

  1. Shalat.
  2. Shaum (berpuasa).
  3. Thawaf di Baitul Haram.
  4. Menyentuh atau memegang mushaf.
  5. Duduk di masjid dan berdiam di dalamnya.
  6. Disetubuhi di farji-nya.
  7. Ditalak
  8. ‘Iddah dalam perhitungan bulan.

Dan hukum nifas sama seperti pada haid. Adapun membaca Al-Qur’an bagi wanita haid dan nifas, banyak ulama yang melarang berdasarkan riwayat, “Perempuan yang sedang haid dan orang yang sedang junub tidak boleh membaca Al-Qur’an sedikitpun.” Tetapi tidak benar, bahwa riwayat ini lemah dan tidak dapat digunakan sebagai hujjah.

Sesungguhnya diperbolehkan bagi perempuan yang haid dan nifas membaca Al-Qur’an, karena riwayat yang menyatakan larangan tersebut lemah dan karena qiyas perempuan haid dan nifas terhadap orang yang junub tidak nampak. Dan karena orang yang junub waktunya pendek serta mungkin baginya untuk segera mandi besar. Sebab waktunya tidak panjang, walaupun ia tidak mampu menggunakan air, ia dapat tayamun dan shalat serta membaca Al-Qur’an.

Sedangkan perempuan haid dan nifas perkaranya bukan di tangan mereka tetapi di tangan Allah. Dan untuk itu membutuhkan waktu yang panjang dan mungkin menjadikannya lupa terhadap hafalannya atas Al-Qur’an. Dan mungkin juga ia perlu untuk mengajar anak-anak atau wanita lain. Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda kepada Aisyah ketika ia haid dan sedang berihram: “Lakukan seperti apa yang dilakukan orang berhaji selain thawaf di Ka’bah hingga engkau suci.” Dan di antara amalan haji yang paling utama adalah membaca Al-Qur’an, namun beliau tidak mengatakan kepadanya jangan membaca Al-Qur’an. Sedangkan beliau telah membolehkan kepadanya semua amalan haji. Ini semua menunjukan bahwa yang benar diperbolehkan bagi wanita haid dan nifas untuk membaca Al-Qur’an secara hafalan tanpa menyentuh atau memegang mushaf. Dan juga amalan-amalan lain selain yang tersebut di atas.

Adapun lamanya wanita haid, para ulama berselisih pendapat mengenai masa terpendek dan terpanjangnya serta masa suci antara dua haid yang terpanjang dan terpendeknya. Ada yang mengatakan bahwa tidak ada masa terpendek atau terpanjang dalam batasan hari. Ada pula yang menyatakan paling panjang lima belas hari. Tetapi syaikhul Islam menegaskan bahwasannya yang benar tidak ada batasan tersedikit atau terbanyak bagi haid. Prinsipnya setiap kali wanita melihat kebiasaan itu datang, maka berarti ia mulai haid. Seandainya ditakdirkan berlalu sampai lebih dari tujuh belas hari kejadian itu maka berarti itu masih haid. Adapaun jika darah terus menerus mengalir selalu darinya (tanpa berhenti dalam sebulan) maka hal itu bukan haid.

Ketiga, bacaan basmallah dalam shalat, Rasulullan bersabda:

“Apabila kamu membaca Al-Fatihah, maka bacalah Bismillah, karena basmallah itu salah satu dari ayatnya.” (Riwayat Daruquthni).

Imam Nawawi menerangkan bahwa dalil ini menunjukkan kewajiban membaca basmallah, dan basmallah itu merupakan salah satu ayat dari surat Al-Fatihah.

Adapun cara pembacaannya di dalam salat, maka disunnahkan membacanya secara sirri (pelan). Hal ini berdasarkan riwayat Imam Bukhari II/188 dalam kitab Shifat Shalat, bab apa yang diucapkan setelah takbir, dari Anas, “Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, Abu Bakar, Umar ketika itu selalu membuka (bacaan) shalatnya dengan Alhamdulillahi rabbil ‘alamin.”

Dalam riwayat Imam Muslim no. 399, kitab shalat bab hujjah orang yang mengatakan basmallah tidak dibaca jahr (keras), “Aku shalat bersama Rasulullah, Abu Bakar, Umar, dan Utsman, dan aku tidak pernah mendengar salah seorang pun di antara mereka membaca bismillahirrahmaanirrahiim.”

Juga dalam riwayat Ahmad III/264, Thahawi I/119, Daruquthni no. 119, dimana di dalamnya dikatakan, “Adalah mereka semua tidak membaca bismillahirrahmanirrahim dengan jaher (keras).” (lihat Zaadul Ma’ad I hal. 206 cet. XIV Muassasah Ar-Risalah).

Sumber: Buku BUNDEL Volume III

Comment here