Informasi

Menapaki Jalan yang Lurus

Spread the love

Seiring berlalunya zaman dari masa kenabian, semakin mahal dan berharga nilai sebuah kebenaran. Sejak munculnya sekte sesat seperti Syi’ah dan Khowarij kemudian disusul dengan sekte-sekte yang lain hingga di zaman kita ini, maka perpecahan pun tidak bisa dihindari sehingga kaum muslimin (terutama yang awam) saat ini sangat kebingungan, manakah yang harus diikuti? Karena setiap kelompok mengaku dirinyalah yang paling benar, dan semuanya mengaku mengikuti Al-Quran dan Sunnah Nabi shollalllahu ‘alaihi wasallam. Tentang perpecahan ummat ini,14 abad silam  Rosululloh shallallohu ‘alaihi wa sallam menjelaskan :

“افْتَرَقَتِ اْليَهُوْدُ على إِحْدى وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً، وَافْتَرَقَتِ النَّصَارَى عَلَى اثْنَتَيْنِ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً، وَسَتَفْتَرِقُ هَذِهِ الْأمَّةُ على ثَلاَثٍ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً كُلُّهَا فِي النَّارِ إلاَّ وَاحِدَة” قِيْلَ: مَنْ هِيَ يا رَسُوْلَ اللهِ؟ قَالَ: “مَنْ كَانَ عَلىَ مِثْلِ مَا أَنَا عَلَيْهِ الْيَوْمَ وَأَصْحَابِي (أخرجه أبو داود)

“Telah berpecah belah agama Yahudi menjadi tujuh puluh satu golongan, dan agama Nashrani menjadi tujuh puluh dua golongan. Dan akan terpecah belah ummatku menjadi tujuh puluh tiga golongan, semuanya berada di neraka kecuali satu. Para Sahabat bertanya : “siapakah mereka wahai Rosululloh?”, kemudian Rosululloh shallallohu ‘alaihi wa sallam bersabda : “mereka adalah seperti apa yang aku dan para Sahabatku pada hari ini” ( HR. Abu Dawud ).

Jalan Keluar

Setelah kita mengetahui keadaan ummat ini yang terpecah belah dalam berbagai kelompok, maka kita berharap  agar terhindar dari paham-paham yang sesat dan menyimpang dengan memperhatikan hal-hal berikut ini :

Pertama : Berpegang teguh terhadap Al-Quran dan Sunnah Nabi shallallohu ‘alaihi wa sallam

 

Sesungguhnya kesesatan akan bisa dihindari dengan menjadikan Al-Quran dan Sunnah Nabi sebagai pedoman hidup kita. Rosululloh shallallohu ‘alaihi wasallam  bersabda :

تَرَكْتُ فِيكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوْا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا كِتَابُ الله وَسُنَّةُ رَسُولِهِ

“Telah aku tinggalkan dua perkara yang jika kalian perpegang teguh kepadanya tidak akan tersesat selama-lamanya, yaitu : Kitabulloh (Al-Quran) dan Sunnah Rosul-Nya “ ( HR. Malik ).

Termasuk bagian berpegang teguh kepada Al-Quran dan Sunnah adalah mengembalikan semua perselisihan yang ada kepada Alloh dan Rosul-Nya. Alloh Ta’ala berfirman :

فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْئٍ فَرُدُّوْهُ إِلَى اللهِ وَالرَّسُوْلِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُوْنَ بِالله وَاْليَوْمِ الآخِر

“Kemudian apabila kalian berselisih pendapat terhadap sesuatu maka kembalikanlah ia kepada Alloh (Al-Quran) dan Rosul (sunnahnya)” (QS An-Nisa :59).

Al-Imam Asy-Syaukani rohimahulloh berkata : ”Maksud dari mengembalikan perkara yang diperselisihkan kepada Alloh dan Rosul-Nya adalah dalam perkara agama, bukan perkara dunia. Kembali kepada Alloh adalah kembali kepada Al-Quran  dan kembali kepada Rosul-Nya adalah kembali pada sunnah yang suci setelah wafat beliau, adapun semasa hidup beliau adalah bertanya langsung kepada beliau shallallohu ‘alaihi wasallam” ( Fathul Qodir Juz 2 Hal. 768 ).

Kedua : Mengikuti cara beragama para Sahabat Nabi shallallohu ‘alaihi wa sallam

Sahabat Nabi adalah generasi terbaik ummat ini, mereka hidup mendampingi Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam dan, mereka  menyaksikan turunnya wahyu, sehingga patut bagi kita untuk mengikuti jejak mereka dalam hal Aqidah, ibadah, akhlak, manhaj, mu’amalah, dan lain sebagainya.

Alloh Ta’ala berfirman :

وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَاءَتْ مَصِيرًا

“Dan barang siapa menentang Rosul (Muhammad) setelah jelas kebenaran baginya dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan dia dalam kesesatan yang telah dilakukannya itu dan Kami masukkan dia kedalam neraka Jahannam dan itulah seburuk-buruk tempat kembali” (QS An-Nisa : 115).

 

Para ulama menafsirkan kata “orang-orang Mukmin” pada ayat tersebut adalah para Sahabat Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam, karena tidak ada orang mukmin pada saat ayat tersebut turun kecuali para Sahabat nabi shollallohu ‘alaihi wasallam, dan juga tidak ada generasi yang mendapat jaminan keridhoan Alloh Ta’ala selain mereka, Alloh Ta’ala berfirman :

وَالسَّابِقُونَ الأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالأَنصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْه

“Dan orang-orang yang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk islam) diantara orang-orang Muhajirin dan Anshor dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Alloh ridho terhadap mereka dan mereka pun ridho terhadap Alloh” (QS At-Taubah :100).

 

Para ulama berargumen dengan ayat tersebut bahwa mengikuti jalan mereka adalah wajib. Karena itu tidak boleh seorangpun menyelisihi apa yang sudah menjadi kesepakatan para sahabat Nabi. Nabi menganjurkan kita untuk berpegang teguh dengan sunnah mereka  serta menggigitnya dengan erat, siapa saja yang tidak mengikuti jalannya maka akan tersesat. Rosululloh shallallohu ‘alaihi wasallam  bersabda :

عَلَيْكُمْ بِسُنّتِي وَسُنّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ الْمَهْدِيِّيْنَ مِنْ بَعْدِيْ عَضُّوْا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الْأُمُوْرِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

“Wajib atas kalian berpegang teguh dengan sunnahku dan sunnah Khulafaur Rosyidin yang mendapatkan petunjuk sesudahku. Gigitlah erat-erat dengan gigi geraham kalian, dan berhati-hatilah kalian dalamn perkara yang baru (dalam hal agama) karena setiap hal yang baru dalam agama adalah sesat” (HR Ahmad, Tirmidzi, dan Ibnu Majah)

Ibnu Rojab Al-Hambali berkata: “Dalam hadits ini terdapat perintah, ketika terjadi perpecahan dan perselisihan untuk berpegang teguh dengan sunnah Nabi dan sunnah khulafa’urrosyidin sepeninggal beliau. Sunnah adalah jalan yang ditempuh , hal itu mencakup berpegang teguh dengan apa yang dianut oleh Nabi dan Sahabatnya berupa keyakinan, amalan  dan ucapan” (Jami’ul Ulum wal Hikam hal: 434)

Penutup

Di akhir tulisan ini, kami persembahkan sebuah sabda Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam yang begitu agung. Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda:

خَيْرُ النّاسِ قَرْنِي ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ (رواه مسلم)

“Sebaik-baik manusia adalah yang ada di zamanku (para sahabat), kemudian orang-orang yang setelahnya dan orang-orang yang setelahnya” (HR Muslim).

Maka, setelah kita mengatahui wajibnya berpegang teguh kepada Al-Quran dan Sunnah serta mengikuti cara pandang para Sahabat Nabi dalam memahami kedua hal tersebut sungguh tidak layak bagi siapapun untuk melangkahi atau mendahulukan hawa nafsunya dalam beraqidah, ibadah, akhlak, manhaj dan muamalah.  Jika mendapati sebuah keyakinan atau amalan yang dinilai sebagai ibadah, maka kita harus kembalikan kepada pemahaman Sahabat Nabi, apakah hal tersebut sesuai dengan pemahaman para mereka?

Semoga kita senantiasa diberikan kemudahan oleh Alloh Subhanahu Wa Ta’ala untuk selalu menapaki agama ini sesuai dengan Al-Qur’an, Sunnah, dan pemahaman para Sahabat Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam. Wallohul Muwaffiq

 

Penulis: Budi Marta Saudin

Artikel: www.radioassunnah.com

Terbit di bulletin At-Ta’lim Cirebon edisi 027 tahun 2011

Comment here