Informasi

Paham Agama Akan Tetapi Tidak Berhijab

Spread the love

Pertanyaan:

Asy-Syaikh ditanya: Saya seorang pemudi muslimah, iman telah merasuk di hati saya sejak kecil karena saya tumbuh di sebuah keluarga yang menjaga (syari’at) dan paham terhadap agama, saya menunaikan shalat pada waktunya dan tidaklah saya melangkahkan satu langkah kakipun kecuali saya jadikan Allah berada di depan mataku, saya selalu memikirkan nasib saya nanti di Hari Perhitungan, saya takut akan siksaan Allah bersamaan dengan itu saya tidak pernah mengenakan hijab padahal saya selalu memikirkan bisa memakai hijab di masa mendatang, apakah balasan saya di akhirat nanti adalah neraka?

Jawaban:

Pertanyaan ini mengandung dua hal (yang berlawanan), pertanyaan pertama adalah apa yang telah ia sifatkan untuk dirinya berupa keistiqamahan di dalam agama Allah, karena ia tumbuh di sebuah rumah (yang penghuninya) shalih. Keadaan inilah yang ia posisikan pada dirinya. Jika yang mendorongnya melakukan hal itu adalah menceritakan nikmat Allah dan ia jadikan berita itu agar diteladani, maka ini adalah tujuan yang baik yang mana ia akan diberikan pahala atasnya dan mudah-mudahan ia termasuk dalam firman-Nya:

وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ

“Dan terhadap nikmat Tuhanmu, maka hendaklah kamu siarkan.” (QS. Adh-Dhuhaa: 11)

Dan sabda Nabi shallallahu ‘alaihiwa sallam:“Barangsiapa yang melakukan suatu kebaikan dalam Islam maka baginya pahala dan pahala orang yang mengamalkannya sampai Hari Kiamat.” (Ahmad dan Muslim)

Dan jika yang mendorongnya adalah penyucian diri, pujian yang berlebihan, dan berkilah dengan perbuatannya itu terhadap Rabbnya, maka ini adalah tujuan yang jelek. Saya kira ia tidak bermaksud demikian ingsya’allah:

Adapun masalah yang kedua yaitu penyepeleannya terhadap hijab ketika ia menuturkan tentang dirinya dan ia bertanya apakah ia akan disiksa di neraka pada hari akhir atas perbuatannya tersebut? Jawabannya bahwa setiap orang yang bermaksiat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan satu kemaksiatan tanpa ditutupi dengan kebaikan maka ia berada dalam bahaya yang sangat mengkhawatirkan apabila perbuatan maksiat itu merupakan kesyirikan atau kekufuran yang bisa mengeluarkan dari millah (ajaran Islam) maka sungguh ‘adzab tersebut diperuntukkan bagi orang musyrik dan kafir kepada Allah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ ۖ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ…

“…Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zhalim itu seorang penolongpun.” (QS. al-Maa’idah: 72)

Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya…” (QS. An-Nisaa’: 48)

Dan jika dibawah itu? Yaitu di bawah dosa kafir yang mengeluarkan dari millah ia adalah salah satu dosa yang tidak bisa dihapus oleh kebaikan maka ia berada di bawah kehendak Allah Subhanahu wa Ta’ala jika Allah menghendaki maka Dia akan mengadzabnya dan jika Ia menghendaki maka Ia pun akan mengampuninya, dan hijab yang wajib atas perempuan tersebut adalah ia gunakan untuk menutupi seluruh badannya dari selain suami dan mahramnya berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ ۚ ذَٰلِكَ أَدْنَىٰ أَنْ يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ ۗ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا

“Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Ahzab: 59)

Oleh karena itu ketika ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha ditanya bagaimanakah halnya perempuan haid mengganti puasa sedangkan ia tidak mengganti shalat, kemudian beliau menjawab: “Hal itu pernah menimpa kami beliau maksudkan ketika masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kami diperintahkan untuk mengganti puasa dan tidak diperintahkan untuk mengganti shalat.”

Beliau menjadikan sebabnya adalah perintah dan itulah hikmahnya.

Disamping itu, hikmah (diwajibkannya) hijab sudah jelas. Karena memperlihatkan kecantikan perempuan merupakan sebab timbulnya fitnah. Apabila fitnah itu terjadi, maka terjadilah berbagai macam kemaksiatan dan kekejian. Dan karena itu pula, ia menjadi penggerak kemaksiatan dan kekejian, yang demikian itu adalah awal pertumpahan darah dan kebinasaan.

(Fataawaa Nuurun ‘alad Darb hal. 68)

Sumber: Fatwa-Fatwa Penting Dalam Sehari-Hari Jilid 2 Karya Syaikh Muhammad Shalih Al-Utsaimin

Comment here