Informasi

Pembahasan Fiqih Haidh (Bagian 1)

Spread the love

Pecinta Radio Kita FM Rahimakumullah Permasalahan darah haidh, istihadhoh dan nifas merupakan masalah agama yang penting untuk dijelaskan dan diketahui, karena berkaitan dengan hukum-hukum syari’at seperti shalat, shaum dan talaq. Risalah ringkas ini merupakan penjelasan tentang darah tabiat wanita serta ahkam yang terkait dengannya  khususnya darah haidh. Semoga bermanfaat Wabillahi at- taufiq.

fiqh haidh

Definisi dan Hikmah Haidh

Haidh dalam bahasa adalah sesuatu yang mengalir.

Menurut istilah syari’at haidh adalah darah yang keluar dari  rahim wanita  pada waktu-waktu tertentu, bukan karena sakit dan bukan kecelakaan. haidh adalah sesuatu yang telah Allah Subhanahu Wa Ta’ala tetapkan untuk putri Adam ‘alaihissalam.

Hikmah darah haidh adalah Allah Subhanahu Wa Ta’ala menciptakannya sebagai zat makanan bagi janin dalam rahim ibunya. Di mana janin dalam rahim ibu tidak dapat memakan sesuatu yang dapat dimakan oleh orang yang berada di luar rahim, maka Allah Subhanahu Wa Ta’ala  menjadikan darah dalam diri wanita sebagai makanan bagi janin dalam kandungan ibunya tanpa perlu memakan dan mencernanya, sampai pada tubuh janin melalui tali pusar, di mana  darah tersebut meresap pada urat dan menjadi zat makanannya. Mahasuci Allah Subhanahu Wa Ta’ala Dialah sebaik-baik pencipta.

 Usia Dan Masa Haidh

Tidak ada batasan minimal dan maksimal tentang batasan usia haidh. Kapanpun seorang wanita melihat darah haidh (keluar dari rahimnya) maka itu adalah haidh, walaupun usianya di bawah sembilan tahun atau lebih dari lima puluh tahun. Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan Rasul-Nya Shalallahu ‘alaihi Wassalam tidak memberikan batasan usia tertentu , maka dalam masalah ini wajib kembali pada keberadaan haidh itu sendiri yang  mana hukum-hukum haidh berkaitan dengannya.

Demikian juga tentang masa atau lamanya haidh, para ulama  berbeda pendapat  sekitar enam atau tujuh pendapat dalam masalah ini.

Ibnu Al-Mundzir mengatakan: “Ada kelompok berpendapat bahwa tidak ada batasan hari minimal dan maksimal haidh“. (Dinukil dari Risalah Fi Ad-Dimaa’ Ath-Thabi’iyyah Li An-Nisaa’  hal: 7). Pendapat ini merupakan pilihan Syaikul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah, dan pendapat ini benar sesuai dengan Al-Kitab dan As-Sunnah.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

“Mereka bertanya kepadamu tentang haidh. Katakanlah: “Haidh adalah kotoran”. Oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri (tidak jima) dari wanita di waktu haidh. Dan janganlah kamu mendekati mereka sebelum mereka suci“. (QS.  Al-Baqarah: 222).

Dalam ayat ini Allah Subhanahu Wa Ta’ala menjadikan batas larangan adalah suci, bukan berlalunya sehari semalam ataupun tiga hari, lima atau sepuluh hari. Ini menunjukkan bahwa illah (alasan) hukumnya adalah ada atau tidaknya haidh. Kapanpun ada haidh maka berlakulah hukum-hukum haidh, dan jika suci maka  hukum tersebut tidak berlaku.

Hadits ‘Aisyah Radiyallahu ‘anhaa Nabi Shalallahu ‘alaihi Wassalam bersabda:

إِذَاأقْبَلَتْحَيْضَتَكِفَدَعِيالصَّلاَةَوَإِذَاأدْبَرَتْفَاغْسِلِيعَنْكِالدَّمَثُمَّصَلِّي

“Jika tiba masa haidhmu maka tinggalkanlah shalat, dan jika sudah berlalu maka cucilah darah darimu kemudian shalatlah“. (HR.  Bukhari :306 dan Muslim: 333)

Dalam hadits ini Nabi Shalallahu ‘alaihi Wassalam mengaitkan hukum-hukum haidh dengan kedatangan dan kepergian haidh itu sendiri, tanpa melihat batasan waktu tertentu. Akan tetapi seorang wanita hendaknya memperhatikan kebiasaan haidhnya, jika dia melihat darah keluar kurang atau lebih dari kebiasaannya  hendaknya dia berhati-hati dan memperhatikan darah tersebut, kadang darah itu bukan haidh akan tetapi ada sebab lain seperti  infeksi, luka atau berasal dari urat dan bukan merupakan darah tabiat wanita, Wallahu A’lam. (Lihat Masail Fil Haidh  Wal Istihadhoh hal:  11).

Pada umumnya masa haidh adalah enam atau tujuh hari dan terjadi sekali dalam sebulan. Berdasarkan sabda Nabi Shalallahu ‘alaihi Wassalam kepada Hamnah Bintu Jahsy Radiyallahu ‘anhu:

تحيضيفِيعِلْمِاللهِسِتَّةَأيَّامٍأَوْسَبْعَةٍثُمَّاغْتَسِلِيوَصَلِّيأَرْبَعَةَوَعِشْرِيْنَيَوْمًاأَوْثَلاثَةَوَعِشْرِيْنَيَوْمًا

Berhaidhlah dalam ilmu Allah Subhanahu Wa Ta’ala selama enam atau tujuh hari, kemudian mandi dan shalatlah selama 24 atau 23 hari“. (HR.  Ahmad (6/439), Tirmidzi (128), beliau berkata: “ Hadits Hasan Shahih”).

Hukum Darah Berhenti pada Masa Haidh

Jika darah haidh berhenti sebentar satu atau dua jam atau setengah hari maka tidak dianggap dan diikutkan dalam hukum haidh, karena darah kadang berhenti dan kadang mengalir, jika diwajibkan mandi bagi wanita yang suci satu atau dua jam maka hal tersebut menyulitkan, sedangkan Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَمَاجَعَلَعَلَيْكُمْفِيالدَّيْنِمِنْحَرَجٍ

Dan Dia (Allah Subhanahu Wa Ta’ala) sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan“. (QS.  Al-Hajj:  78).

Adapun jika darah haidh berhenti selama sehari atau lebih, hukumnya adalah hukum suci maka wajib mandi dan shalat pada hari itu dan dihukumi sebagai wanita yang suci, dan ini adalah pendapat yang dipilih Ibnu Qudamah Al-Maqdisy rahimahullah , Wallahu A’lam.

Hukum Shufroh (Lendir Kuning) dan Kudroh (Lendir Keruh)

Jika lendir kuning dan lendir keruh keluar pada masa haidh atau bersambung dengan masa haidh sebelum suci maka itu adalah haidh dan ditetapkan padanya hukum-hukum haidh. Berdasarkan hadits A’isyah Radiyallahu’anhaa:

“Para wanita mengirimkan sehelai kain berisi kapas (yang digunakan wanita untuk mengetahui apakah masih ada sisa noda haidh) yang masih tersisa lendir kuning. Maka ‘Aisyah berkata: “ janganlah kalian terburu-buru sampai kalian melihat qashotul baidha’ (lendir putih)“. (Imam Bukhari meriwayatkannya sebagai ta’liq dalam shohihnya, Imam malik dalam Al-Muwatho’ 1/59 dan dishohihkan oleh Imam Nawawy 2/416).

Adapaun jika lendir kuning atau keruh keluar pada masa suci maka bukanlah haidh, berdasarkan ucapan Ummu ‘Athiyah Radiyallahu’anhaa:

كُنَّالاَنَعُدُّالصُفْرَةَوَالْكُدْرَةَبَعْدَالطُّهْرِشَيْئًا

“Kami tidak menganggap sedikitpun lendir kuning dan lendir keruh yang keluar setelah suci”. (HR.  Abu Dawud).

Tanda Suci Dari Haidh

Seorang wanita dapat mengetahui akhir  haidhnya dengan  dua tanda:

Keluar Al-Qoshotul Baidho’, yaitu lendir putih yang keluar dari rahim di akhir masa haidh.

Jafaf (kering), mengusapkan kapas atau kain ke kemaluan, kemudian keluar dalam keadaan kering tidak ada bercak darah, lendir keruh atau lendir kuning.

Ditulis oleh Ustadzah Ummu Abdillah Lilis Ikhlasiyah Bintu Hasyim – dipublish ulang oleh Abu Arfa & radioassunah.com

Comment here