Informasi

Penyimpangan Aqidah Yang Banyak Dilakukan Wanita

Spread the love

Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah menurunkan syari’at yang didalamnya terdapat kebahagiaan manusia di dunia dan akhirat. Sikap berpegang teguh dengan syari’at Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan tidak melanggarnya akan melahirkan keutamaan, kesucian dan kemuliaan serta dapat menyelamatkan manusia dari  kehinaan, keburukan, kerusakan dan dosa. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman :

إنمَا يُرِيْدُ اللهُ لِيُذهِبَ عَنكُمُ الِرجْسَ أهْلَ البَيْتِ َو يُطهّرَكُمْ تطهِيْرًا

 “Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait (keluarga Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wassalam) dan membersihkan kamu sebersih – bersihnya .”(Q.S Al-Ahzab : 33)

penyimpangan wanita

Risalah ini berisi tentang beberapa penyimpangan yang sering dilakukan oleh wanita, mengingat peranan wanita yang sangat besar dalam masyarakat, diharapkan dia dapat meng-hindari perbuatan tersebut dan bertaubat kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala jika terlanjur melakukannya, serta dapat mendakwahkannya kepa-da muslimah lainnya. Semoga kita termasuk orang-orang yang saling tolong menolong dalam kebaikan dan taqwa. Wabillahi At-Taufiq

 PENYIMPANGAN DALAM AQIDAH

 1. Mendatangi dukun, tukang sihir atau  paranormal ketika tertimpa penyakit, menyembuhkan sihir, atau meminta tiwalah (pelet) agar dicintai suaminya. Perbuatan ini haram, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wassalam memperingatkan dalam sabdanya:

مَنْ أتَى عَرافًا فَسَألَهُ عَن شَيْءٍ لَمْ تقبَلْ لهُ صَلاةٌ أرْبَعِيْنَ يَوْمًا

Barangsiapa mendatangi pera-mal kemudian bertanya tentang sesuatu, maka sholatnya tidak diterima selama empat puluh hari“ (HR. Empat Ahlus Sunan)

Bahkan jika dia membe-narkannya, maka dia jatuh dalam kekufuran, sebagaimana sabda Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wassalam:

مَنْ أتَى كاهِنا فَصَدَّقهُ بمَا يَقُوْلُ فَقَدْ كَفَرَ بمَا أنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ

Barangsiapa mendatangi dukun kemudian dia membenarkan ucapan dukun tersebut maka dia telah kufur terhadap wahyu yang diturunkan kepada  Nabi Muhammad r .” (HR. Muslim)

2. Ziarah kubur dan safar untuk ziarah kubur, khususnya kuburan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wassalam.  Beliau  Shalallahu ‘alaihi Wassalam bersabda :

لعَنَ اللهُ زوَّارَاتِ القبُوْرِ

Allah melaknat wanita yang berziarah kubur“.(HR.Ahmad, Shahih Jami’ As-Shagir No. 5109)

Dalam riwayat lain Nabi Shalallahu ‘alaihi Wassalam bersabda:

لا تشدُ الرِّحَال إلا إلَى ثلاثةِ مَسَاجدَ  المَسْجدِ الحَرَامِ وَ مَسْجدِ الرَّسُوْلِ  وَ المَسْجدِ الأقصَى

Tidaklah dipersiapkan perjalanan (safar, untuk ibadah) melainkan menuju tidak masjid yaitu Masjidil Haram, Masjid Nabawi dan Masjid al-Aqsho .”(HR. Bukhari 1189, Muslim 1397 , Abu Dawud 2017  dan Nasaai)

3. Memulai salam terhadap wanita kafir dan mencintai  mereka , Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wassalam bersabda :

لَا تبْدَؤُوْا اليَهُوْدُ وَالنصَارَى بالسَّلامِ

Janganlah kalian memulai ucapan salam terhadap yahudi dan nasrani . “(HR. Muslim)

Demikian juga  mengucapkan selamat pada hari ulang tahun dan hari tahun baru mereka atau selainnya .

Perbuatan ini haram hukumnya karena termasuk sikap berloyalitas terhadap musuh-musuh Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman :

يَا أيُّهَا الذِيْنَ آمَنوْا لا تتخِذوْا

 عَدُوِّي وَ عَدُوَّكُمْ أوْلِيَاءَ تلقوْنَ إليْهِمْ بالمَوَدَّةِ  وَ قدْ كفرُوْا بمَا جَاءَكمْ مِنَ الحَقِّ

Hai orang-orang yang beriman , janganlah kamu menjadikan  musuh-Ku dan musuhmu menjadi teman – teman setia yang kamu sampaikan kepada  mereka (berita-berita Muhammad r) karena rasa kasih sayang. Padahal sesungguh-nya mereka telah ingkar kepada kebenaran yang datang kepadamu.“(QS. Al–Mumtahanah : 1)

 4. Jahil tentang urusan agama dan tidak mau mempelajari ilmu syar’i khususnya tentang kewanitaan, sehingga menyebabkan mereka terjatuh dalam perbuatan yang dilarang oleh syariat. Sedangkan Nabi Shalallahu ‘alaihi Wassalam bersabda :

َطلبُ العِلمِ فرِيْضَةٌ عَلىَ كلِّ مُسْلِمٍ

Menuntut ilmu hukumnya wajib bagi setiap muslim.”(HR.Ibnu Majah dan dishahihkan oleh Al-Albani)

5. Meratapi mayat, memukul wajah dan merobek  baju ketika tertimpa musibah kematian. Seakan  ia menentang dan tidak menerima taqdir Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Nabi Shalallahu ‘alaihi Wassalam bersabda :

ليْسَ مِنا مَنْ لَطَمَ الخدُوْدَ وَ شق الجُيُوْبَ وَ دَعَا بدَعْوَى الجَاهِلِيَّةِ

Bukan termasuk golongan kami orang yang memukul – mukul pipi, merobek – robek baju dan berseru dengan seruan jahiliyah.“(Muttafaq ‘Alaih)

Menangis dan bersedih tanpa disertai ratapan dan jeritan maka tidak diharamkan, akan tetapi perlu diwaspadai jangan sampai menyebabkan niyahah.

Rasulullah r bersabda :

النائِحَة إذا لمْ تتبْ قبْلَ مَوْتِهَا تقامُ يَوْمَ القِيَامَةِ وَ عَليْهَا سِرْبَالٌ مِنْ قطِرَان وَ درْعٌ مِن جَرَبٍ

Wanita yang berniyahah (mera-tapi mayat yang dilarang syariat) apabila tidak bertaubat sebelum kematiannya maka akan dibangkitkan pada hari kiamat dengan memakai pakaian dari ter yang panas dan baju  dari penyakit kulit .“(HR. Muslim)

6. Safar ke negeri kafir tanpa keperluan syar’i, dengan alasan  belajar, rekreasi  atau berbulan madu. Para ulama telah berfatwa bahwa safar ke negeri kafir tidak diperbolehkan kecuali ada alasan syar’i . Nabi Shalallahu ‘alaihi Wassalam bersabda :

أنا بَرِئٌ مِن كلِّ مُسْلِمٍ يَقيْمُ بَيْنَ أظهرِ المُشرِكِيْنَ

Aku berlepas diri dari setiap muslim yang tinggal diantara orang – orang musyrik.“ (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi serta dihasankan oleh Al-Albani)

7. Menuntut  kepada suami agar dicarikan  pembantu atau guru pribadi non muslim, kemudian membiarkan pendidikan anak- anak mereka olehnya.

Tidak diragukan lagi hal ini akan menyebabkan bencana bagi aqidah dan akhlak pada anak-anak, keluarga atau masyarakat.

8. Memperolok dan meremehkan muslim dan muslimah yang berpegang teguh dengan agama, karena hal tersebut merupakan  salah satu pembatal Islam yang bisa mengeluarkan mereka dari agama, misalnya tentang  hijab . Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman :

قلْ أباللهِ وِ آيَاتِهِ وَ رَسُوْلِهِ كنتمْ تسْتهْزِؤوْن لا تعْتذِرُوْا  قدْ كفرْتمْ بَعْدَ إيْمَانِكمْ

“Katakanlah : Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok ?  Tidak usah kamu meminta maa, karena kamu telah kafir setelah beriman . “(Q.S. At-Taubah : 65 – 66)

Adapun jika wanita tersebut memperolok muslimah lainnya karena aib yang ada padanya seperti jangkung (tinggi), pendek, hitam atau putih, maka perbuatan ini haram namun tidak mengeluarkan pelakunya dari agama. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman :

يَاأيُّهَا الذِيْنَ آمَنوْا لا يَسْخَرْ قوْمٌ مِنْ قوْمٍ عَسَى أن يَكوْنوْا خيْرًا مِنهُمْ وَ لا نِسَاءٌ مِن نِسَاءِ عَسَى أن يَكوْن خيْرًا مِنهُنَّ

Hai orang-orang yang beriman , janganlah suatu kaum mengolok-olokkan kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olokkan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olokkan), dan ja-ngan pula wanita-wanita (mengolok-olokkan) wanita-wanita lain (karena) boleh jadi wanita-wanita (yang diolok-olokkan) lebih baik dari wanita (yang mengolok-olok).“(Q.S. Al-Hujuraat : 11)

9.  Mengharapkandan  mendoakan diri sendiri dengan kematian karena musibah yang dia alami. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wassalam bersabda

لا يَتمَين أحَدُكمْ المَوْتَ لِضُرٍّ نزلَ بهِ، فإنْ كانَ لا بُدَّ مُتمَنِياً فليَقلْ : اللهُمَّ أحْينِي مَا كانتِ الحَيَاةُ خيْرًا لِيْ وَ توَفَّنِي إذا كانت الوَفَاةُ خيْرًا لِي

Janganlah salah seorang dian-tara kalian mengharapkan kematian karena musibah yang dia alami. Jika dia memang harus berharap maka ucapkanlah: “Ya Allah, hidupkanlah aku selama kehidupan ini baik untukku dan wafatkanlah aku jika kematian itu baik untukku.“(Muttafaq ‘Alaih)

Terkadang ada sebagian ummahat yang tidak memahami sehingga mendoakan keburukan untuk anaknya karena  kurang berbakti atau karena kesalahan yang tidak sengaja, lalu do’anya itu bertepatan dengan waktu dikabulkannya do’a, dan ibu ini lupa bahwa Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wassalam bersabda :

ثلاث دَعَوَاتٍ مُسْتجَابَاتٍ لا شك فِيْهِن دَعْوَةُ الوَاِلِد عَلَى وَلدِهِ وَ دَعْوَةُ المُسَافِرِ وَ دَعْوَةُ المَظلوْمِ

Tiga do’a yang dikabulkan dan tidak diragukan lagi adalah: Do’a orang tua untuk anaknya, do’a musafir dan do’a orang yang dizholimi.“(HR.Abu Dawud No. 1536, Al-Silsilah As-Shahiihah No. 596)

PENYIMPANGAN DALAM RUKUN ISLAM

 1. Mengakhirkan waktu shalat. Seperti mengakhirkan sholat isya karena begadang atau terlambat tidur sehingga menyebabkan sholat shubuh dikerjakan  setelah matahari terbit. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wassalam bersabda :

إنهُ أتانِي الليْلةَ آتِيَان، وَإنهُمَا ابْتعَثانِي  وَإنهُمَا قالا لِي  انطَلِقْوَإنِي انطلقت مَعَهُمَا  وَإنا أتيْنا عَلىَ رَجُلٍ مُضْطجعٍ وَرَجُلٍ قائِمٍ عَلىَ رَأسِهِ بيَدِهِ صَخرَةٌوَإذا هُوَ يهْوِى بالصَّخرَة ِ لِرَأسِهِ  فيثلغ رَأسَه فيتدَهْدَهَ الحَجَرُ هاَهُنا فيتبعُ الحَجَرَ فيَأخذهُ فلا يَرْجِعُ إليْهِ حَتى يُصْبِحَ رَأسُه كمَا كانثمَّ يَعُوْدُ عَليْهِ فيَفعَل بهِ مِثلَ مَا فعلَ بهِ المَرَّة ألأوْلىقال قلت لهُمَاسُبْحَان الله مَا هَذان قالا لِي أمَّا إنا سَنخبرُك أمَّا الرَّجُلُ  الأوَّلُ الذِي أتيْت عَليْهِ يثلغ رَأسه بالحَجَرِ فإنهُ الرَّجُلُ يَأخذ القرْآن فيرفضه وَ يَنامُ عن الصَّلاةِ المَكتوْبَةِ

Sesungguhnya semalam ada dua orang mendatangiku dan membangunkan aku, lalu mereka berkata kepadaku: “Pergilah!“. Maka aku pergi bersama keduanya, lalu kami mendatangi seorang laki-laki yang sedang berbaring, dan di samping kepalanya ada laki-laki yang membawa batu besar di tangannya. Lalu dia (laki-laki yang berdiri) memukulkan batu tersebut ke kepala laki-laki yang berbaring, maka kepalanya hancur berkeping-keping dan batu tersebut menggelinding ke sini, maka dia mengikuti arah batu tersebut dan mengambilnya, dan tidaklah dia kembali menemui laki-laki tadi melainkan kepalanya sudah (utuh kembali) seperti semula. Lalu dia mengulang perbuatannya seperti yang pertama kali. Beliau berkata, Aku berkata kepada dua orang (yang menemani-ku): “Subhanallah, Siapakah dua laki-laki ini?“ Mereka berkata: “Kami  akan kabarkan kepadamu. Adapun orang pertama yang kamu datangi dan kepalanya dihancurkan  dengan  batu besar, sesungguhnya dia adalah orang yang mengambil   (membaca) Al-Qur’an kemudian dia menolaknya dan dia tidur  (mengakhirkan)  sholat wajib.“(HR. Bukhari)

Demikianlah wahai saudariku akibat bagi orang yang meng-akhirkan shalat wajib dan tidur saat waktu shalat, maka bagai-mana dengan keadaan orang yang tidak mengerjakan sholat dan meninggalkannya?(Wal’iyadzu billah)

 2. Tidak  mengeluarkan zakat mal (harta) dan perhiasan yang dimiliki wanita apabila telah mencapai haul  dan nishob.

Seorang wanita wajib mengeluarkan zakat perhiasannya baik yang dia pakai atau yang disimpan, sebagaimana difatwa-kan oleh Syaikh abdul Aziz Bin Baz dan syaikh Muhammad Bin Utsaimin rahimahullah(masalah ini diperselisihkan dikalangan ulama). Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengancam orang yang tidak mau mengeluarkan zakat :

وَالذِيْن يَكنِزوْنَ الذهَبَوَالفِضَّةَ وَلا يُنفِقوْنَهَا فِي سَبيْلِ اللهِ فبَشرْهُمْ بعَذابٍ أليْمٍ يَوْمَ يُحْمَى عَلَيْهَا فِي نارِ جَهَنَّمَ فتُكْوَى بهَا جبَاهُهُمْ  وَجُنُوْبُهُمْ وَظهُوْرُهُمْ هَذا مَا كَنَزْتُمْ لِأنفُسِكُمْ فَذوْقُوْا مَا كُنْتُمْ تَكْنِزُوْنَ

Orang-orang yang menyimpan emas dan perak serta tidak menafkahkannya pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih. Pada hari dipanaskan emas dan perak itu dalam neraka jahanam, lalu dibakar dengannya dahi, lambung dan punggung mereka, (lalu dikatakan kepada mereka): “Ini adalah harta yang kamu simpan untuk dirimu sendiri, maka (sekarang) rasakanlah (akibat buruk) dari harta yang kamu simpan itu.“ (QS. At-Taubah: 34 – 35)

3. Membiarkan suami dan anak-anak yang tidak sholat, tidak menasehati dan tidak mengingkari kemungkaran mereka.

4. Kurangnya perhatian ibu terhadap waktu baligh putrinya dan kewajiban yang terkait dengannya, kemudian  ibu tersebut tidak memerintahkan putrinya untuk sholat, shoum, hijab dan seluruh perbuatan yang wajib baginya.

5. Mengkhususkan warna tertentu ketika ihrom baik untuk haji atau umroh seperti warna hijau atau lainnya, demikian juga memakai cadar dan sarung tangan saat ihrom. Nabi Shalallahu ‘alaihi Wassalam bersabda :

لا تنتقِبْ المِرْأة ُالمُحْرِمَة ُوَلا تلبسُ القفازيْن

Janganlah seorang wanita yang sedang berihrom  memakai cadar dan sarung tangan .“(HR. Bukhari)

 Maroji :

Sab’uuna Mukholafah Taqo’u Fiihaa An-Nisaa, Muroja’ah  dan Taqdim oleh Syaikh ‘Abdullah Bin ‘Abdurrahman Al-Jibrin رحمه الله , Dar Al-Qosim, Cetakan Pertama, tahun 1417 H. (dengan beberapa perubahan dan tambahan).

Ditulis oleh Ummu ‘Abdillah Lilis Ikhlasiyah Bintu Hasyim, Pengajar di Ponpes Assunnah Cirebon. Dari Majalah Al Bayan Edisi 7

Comment here