Fatwa Tentang Hukum Shalat Dimasjid Yang Ada Kuburannya

Fatwa Tentang Hukum Shalat Dimasjid Yang Ada Kuburannya

September 13, 2018 0 By Radio Kita FM Cirebon

Pertanyaan: Apakah hukum shalat dimasjid yang terdapat kuburannya padanya?

Jawaban: Shalat di masjid yang terdapat kuburan padanya ada dua macam:

Pertama: adanya kuburan itu lebih dulu daripada masjid dimana dibangun masjid diatas kuburan, maka yang wajib menjauhi adalah menjauhi masjid ini dan meniadakan shalat padanya dan bagi orang yang membangunnya untuk menghancurkannya dan jika tidak melakukannya, wajib bagi pemerintah untuk menghancurkannya.

Kedua: adanya masjid lebih dulu dari kuburan dimana mayit dikubur padanya setelah masjid tersebut dibangun. Maka yang wajib adalah menggali kuburan dan mengeluarkan mayat darinya lalu menguburnya bersama manusia lainnya.

Adapun masjid tersebut boleh digunakan shalat padanya dengan syarat kuburan itu tidak berada didepan masjid, karena nabi shalallahu ‘alaihi wasallam melarang shalat menghadap kubur. Adapun kubur nabi saw yang mencakup masjid nabawi maka telah dimaklumi bahwa masjid nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam dibangun sebelum kematiannya. Sehingga masjid tersebut bukan dibangun diatas kuburan dan telah dimaklumi juga bahwa nabi tidak dikubur didalam masjid. Beliau Shalallahu ‘alaihi wasallam dikubur didalam rumah beliau yang terpisah dari masjid.

Pada masa pemerintahan Al-Walid bin Abdul Malik dia menulis surat kepada amirnya di madinah yaitu ‘Umar bin Abdul Aziz pada tahun 88 H untuk menghancurkan masjid nabawi dan menambahkan kepadanya kamar para istri nabi shalallahu ‘alaihi wasallam, maka ‘umar mengumpulkan orang-orang yang  terkemuka dan para Fuqaha’ dan beliau membacakan surat amirul mukminin Al-Walid kepada mereka dan mereka mengatakan; ‘”tinggalkan tetap dalam keadaan demikian karena akan lebih bisa diambil pelajaran darinya?”

Diceritakan bahwa Sa’id bin al-Musayyad menolak dimasukannya kamar Aisyah (sebagai bagian dari masjid) karena dia khawatir kuburan tersebut akan dijadikan sebagai masjid. Maka ‘umar menulis surat kepada al-walid, maka al-walid mengutus seseorang dan memerintahkan untuk membatalkannya. Maka tidak ada pilihan lagi bagi ‘umar untuk menolak perintah tersebut.

Maka engkau lihat bahwa kubur nabi Shalallahu alaihi wasallam tidak diletakkan didalam masjid dan tidak dibangun padanya masjid sehingga tidak ada hujjah didalamnya bagi orang yang berhujjah atas bolehnya menguburkan dimasjid atau membangun masjid diatas kubur. Dan telah shahih dari nabi Shalalahu alaihi wasallam bahwa beliau bersabda : “laknat allah atas kaum yahudi dan kaum nasrani yang menjadikan kubur para nabi mereka sebagai masjid….” (Muttafaq ‘alaih)

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasalam menyebutkan hak tersebut ketika menjelang wafat beliau sebagai peringatan kepada umatnya agar tidak melakukan yang demikian. Dan tatkala Ummu Salamah Radhyallahu ‘anhu menceritakan kepada beliau tempat ibadah, diamana dia melihatnya di bumi Habasyah yang didalamnya ada gambar-gambar / patung-patung, beliau bersabda: “mereka itu apabila ada orang-orang shalih atau hamba yang shalih diantara mereka mati maka mereka membangun masjid diatas kuburan mereka, mereka adalah seburuk-buruk makhluk disisi allah” (Muttafaq ‘alaih)

Dari Ibnu Mas’ud Radhiayallahu ‘anhu ia berkata, bahwa nabi Shalallahu alaihi wasallam bersabda:

“Sesungguhnya seburuk-buruk manusia adalah mereka yang menemui hari kiamat sedangkan mereka masih hidup dan orang-orang yang menjadikan kuburan sebagai masjid.”(Dikeluarkan al-Imam Ahmad dengan sanad yang baik)

Seorang mukmin tidak akan ridha berjalan diatas jalannya kaum yahudi dan nashrani dan juga tidak akan ridha menjadi sejelek-jelek makhluk.

(Ditulis Pada Tanggal 7-4-7-1414 H, Dan Majmuu’ Futaawaa Asy-Syaikh 2/234)

Diambil dari Buku Berjudul Fatwa-Fatwa Penting Dalam Sehari-hari Jilid 1 Karangan Syaikh Muhammad Shalih Al-Utsaimin.