Oleh Syaikh:

Yazid Bin Abdul Qodir Jawwas

عن العرباض بن سارية -رضي اللَّه عنه- قال: صلَّى بِنَا رَسُولُ الله –صلى الله عليه وسلم- ذَاتَّ يَوْمٍ ثُمَّ أَقْبَلَ عَلَيْنَا فَوَعَظَنَا بِمَوْعِظَةً بَلِيْغَةً ذَرَفَتْ مِنْهَا العُيُوْنُ وَ وَجِلَتْ مِنهَا القُلُوبُ, فَقَالَ قَائِلٌ: يَا رَسُوْلُ اللّه كَأَنَّ هَذِهِ مَوْعِظَةُ مُوَدِّعٍ فَمَاذَا تَعهَدُ إِلَيْنَا, فَقالَ

أُوْصِيْكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ وَ السَمْعِ وَ الطَّاعَةِ وَ إِنْ عَبْدًا حَبَشِيًّا, فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِيْ فَسَيَرَى اخْتِلَافًا كَثِيْرًا, فَعَلَيكُمْ بِسُنَّتِي وَ سُنَّةُ الخُلفَاءِ المَهْدِيِّيْنَ الرَّاشِدِيْنَ, تَمَسَّكُوْا بِهَ وَ عَضُّوا عَلَيْهَا باِلنَّوَاجِذِ, وَ إِيَّاكُم وَ مُحْدَثَاتِ الأُمُوْرِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ, وَ كُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلةٌ

Artinya:

Dari Irbadh bin Sariyah –Rodhiyallahu Anhu- dia berkata: “suatu hari Rosulullah ﷺ pernah sholat bersama kami, kemudian beliau menghadap kami lalu memberi nasehat kepada kami dengan nasehat yang membekas pada jiwa, yang menjadikan air mata berlinang dan hati menjadi takut. Maka seseorang berkata: “Wahai Rosulullah nasehat ini seakan-akan dari orang yang akan berpisah, maka apakah yang akan engkau wasiatkan kepada kami?” Maka Rosulullah ﷺ berseabda:

“Aku wasiatkan kepada kalian supaya tetap bertakwa kepada Allah, tetaplah mendengar dan taat, walaupun yang memerintahkan kepada kalian adalah seorang budak dari habasyah. Sungguh, orang yang masih hidup diantara kalian sepeninggalku maka ia akan melihat perselisihan yang banyak, maka wajib atas kalian berpegang teguh kepada sunnahku dan sunnah khulafa’ur rasyidin, peganglah erat-erat dia dengan gigi geraham kalian. Dan jauhilah oleh kalian perkara-perkara yang baru (dalam agama), karena sesungguhnya setiap perkara yang baru itu adalah bid’ah, dan setiap bid’ah itu adalah sesat.”

Takhrij Hadits:

  1. Imam Ahmad dalam Musnadnya (IV/126-127).
  2. Imam Abu Dawud (no. 4067)
  3. Imam At-Tirmidzi (no.2676)
  4. Imam Ibnu Majah (no. 42)
  5. Imam Ad-Darimi (I/44)
  6. Imam Ibnu Hibban dalam Shohihnya (no. 5, At-Taliiqatul hisaan dan 102 Al-Mawaarid)
  7. Imam Al-Hakim (1/95)
  8. Imam Ibnu Abi Ashim dalam As-Sunah (no. 54-59)
  9. Imam Al-Baghowi dalam Syarhus Sunnah (1/125, no. 102)
  10. Imam Al-Baihaqi dalam sunannya (x/114)
  11. Imam Al-Laalika’I dalam syarah Ushuluul I’tiqad Ahlis Sunnah Wal Jamaa’ah (1/75, no 81)
  12. Dan yang lainnya.

Hadits ini di shahihkan oleh Imam-imam Ahli Hadits. Imam At-Tirmidzi mengatakan “Hadit ini Hasan Shohih” Imam Al-Bazzar mengatakan “Hadits ini tsabit shohih” Imam Ibnu Abdil Bar mengatakan “Hadits ini tsabit” Imam Al-Hakim mengatakan “Hadits ini shohih tidak ada cacatnya” dan di setujui oleh Imam Adz-Dzahabi. Hadits ini di shohihkan juga oleh Imam Al-Allamah Al-Muhaddits Muhammad Nashiruddin Al-Albani dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shohihah (no. 937 dan no. 2735) dan dalam Irwaa’ul Ghaliil (VIII/107-109, no.2455).

Hanya Allah tempat memohon pertolongan

Referensi:

  • [Buku Wasiat Perpisahan] karangan Syaikh Yazid bin Abdul Qodir Jawwas -Hafidzohullahu ta’ala-
One thought on “WASIAT PEPISAHAN”

Leave a Reply