Ramadan_kareem

  1. Tetap Duduk di Dalam Masjid Hingga Terbit Matahari

Apabila Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam selesai menunaikan shalat Shubuh, beliau selalu duduk di tempat shalatnya hingga terbit matahari. (HR. Muslim)

Imam at-Tirmidzi meriwayatkan sebuah hadits dari Anas bin Malik dari Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, bahwa beliau bersabda,
مَنْ صَلَّى صَلاةَ الصُّبْحِ فِي مَسْجِدِ جَمَاعَةٍ يَثْبُتُ فِيهِ حَتَّى يُصَلِّيَ سُبْحَةَ الضُّحَى، كَانَ كَأَجْرِ حَاجٍّ، أَوْ مُعْتَمِرٍ تَامًّا حَجَّتُهُ وَعُمْرَتُهُ

Barangsiapa yang mengerjakan shalat shubuh dengan berjama’ah di masjid, lalu dia tetap berdiam di masjid sampai melaksanakan shalat sunnah Dhuha, maka ia seperti mendapat pahala orang yang berhaji atau berumroh secara sempurna.
(Dinyatakan shahih oleh Syaikh al-Albani)

Hal ini berlaku di setiap hari, maka bagaimana pula bila dilakukan pada bulan Ramadhan?

Wahai saudaraku, semoga Allah ta’ala menjagamu, berusahalah menjaga amalan yang agung ini. Dengan tidur yang cukup dan dengan meneladani oran-orang shalih. Senantiasa bersnggguh-sungguh mencari ridha Allah ta’ala, dan selalu bertekad untuk mencapai derajat yang tinggi di dalam syurga

6. I’tikaf

I’tikaf adalah ‘tinggal di masjid dengan niat tertentu dan dengan tata cara tertentu’. Tempat i’tikaf: di masjid yang digunakan untuk shalat berjemaah, meskipun tidak digunakan untuk jumatan seperti mushalla. Allah ta’ala berfirman,

وَلا تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ

Allah berfirman,  “Janganlah kalian melakukan hubungan suami-istri ketika kalian sedang i’tikaf di masjid ….” (Q.s. Al-Baqarah:187)

Imam Al-Bukhari membuat judul bab “Bab (anjuran) i’tikaf di sepuluh hari terakhir dan (boleh) i’tikaf di semua masjid“. (Shahih Bukhari, 7:382)

Kapan memulai i’tikaf ?

Dianjurkan untuk memulai i’tikaf di malam tanggal 21 setelah magrib, kemudian mulai masuk ke tempat khusus (semacam tenda atau sekat) setelah subuh pagi harinya (tanggal 21 Ramadan).

hadits Aisyah radhiallahu anha:

كَانَ يَعْتَكِفُ الْعَشْرَ الأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ حَتَّى تَوَفَّاهُ اللَّهُ ، ثُمَّ اعْتَكَفَ أَزْوَاجُهُ مِنْ بَعْدِهِ
((رواه البخاري، رقم 2026 ومسلم، 1172

“Biasanya (Nabi sallallahu’alaihi wa sallam) beri’tikaf pada sepuluh malam akhir Ramadan sampai Allah wafatkan. Kemudian istri-istrinya beri’tikaf setelah itu.” (HR. Bukhari, no. 2026 dan Muslim, no. 1172)

Rukun i’tikaf

  • Letak niat itu di hati dan tidak boleh dilafalkan. Sebatas keinginan untuk itikaf itu sudah dianggap berniat untuk i’tikaf.
  • Dilakukan di masjid, baik masjid untuk jumatan mauapun yang tidak digunakan untuk jumatan.
  • Menetap di masjid.

Pembatal i’tikaf

  • Hubungan biologis dan segala pengantarnya.
  • Keluar masjid tanpa kebutuhan.
  • Haid dan nifas.
  • Gila atau mabuk.

Yang diperbolehkan ketika i’tikaf

  • Keluar masjid karena kebutuhan mendesak, seperti: makan, buang hajat, dan hal lain yang tidak mungkin dilakukan di dalam masjid.
  • Mengeluarkan sebagian anggota badan dari masjid.
  • Makan, minum, tidur, dan berbicara.
  • Wudhu di masjid.
  • Bermuamalah dan melakukan perbuatan (selain ibadah) di masjid, kecuali jual beli.
  • Menggunakan minyak rambut, parfum, dan semacamnya.

 Yang dimakruhkan ketika i’tikaf

  • Menyibukkan diri dengan kegiatan yang tidak bermanfaat, baik ucapan maupun perbuatan.
  • Tidak mau berbicara ketikai’tikaf, dengan anggapan itu merupakan bentuk ibadah. Perbuatan ini termasuk perbuatan yang tidak ada tuntunannya.

Hikmah melakukan i’tikaf

  • Hati lebih berkonsentrasi dan bersendirian dalam ibadah pada Allah.
  • Memutuskan diri dari berinteraksi dengan lainnya dan hanya menyibukkan diri dengan Allah.
  • Mudah untuk konsentrasi dalam dzikir.
  • Tafakkur (merenungkan diri).
  • Muhasabah (introspeksi diri).
  • Mudah untuk memanjatkan doa.
  • Lebih memperbanyak ibadah.
  • Menggapai malam lailatul qadar.

Sedangkan hikmah terbesar dari i’tikaf -sebagaimana kata Ibnul Qayyim- adalah untuk membuat seseorang makin cinta pada Allah sebagai ganti kecintaannya pada makhluk. Lihat Zaadul Ma’ad, 2: 86-87.

Semoga Allah memudahkan kita untuk melakukan amalan i’tikaf ini dan bisa meraih hikmah di dalamnya.

 

By Radio Kita FM Cirebon

Radio Kita 94.3 FM Cirebon. SMS/WA 085210943943, Telpon On Air: (0231) 488281

Leave a Reply