Orang yang Tidak Mampu Berpuasa

 

Pertanyaan: Seorang laki-laki tertimpa kecelakaan lalu lintas. Dokter berkata kepadanya bahwa pinggang dan saluran air seninya lemah sekali akibat dari kecelakaan lalu lintas tersebut. Dokter menyuruh agar banyak minum air. Apakah dia wajib berpuasa? Perlu diketahui bahwa saya sudah mencoba untuk berpuasa kemudian terjadi pendarahan. Maka saya pun berbuka atas anjuran dokter.

Jawaban: Kelihatan dari keadaan bahwa engkau tidak mampu berpuasa. Karena ketika engkau mencoba setengah bulan berpuasa di tahun yang ketiga terjadi pendarahan. Ini artinya engkau harus banyak minum air. Dengan demikian engkau tidak wajib berpuasa. Kewajibanmu adalah memberi makan satu orang miskin setiap harinya. Tidak cukup kamu membayar dengan uang untuk memberi makan mereka. Maka sekarang engkau wajib memberi makan dua bulan setengah.

Ada dua cara dalam memberi makan ini.

Pertama: Engkau membuat makanan dan mengundang 30 orang miskin. Untuk membayar Ramadhan tahun pertama. Demikian pula hari kedua. Pada hari ketiga engkau Ramengundang 15 orang miskin untuk tahun ketiga.

Kedua: Engkau memberi mereke enam sha’ beras. Engkau bagi untuk 30 orang miskin dengan daging yang mencukupi mereka, daging ayam atau yang lainnya. Ini untuk bulan ramadhan tahun pertama. Demikian pula enam sha’ untuk Ramadhan tahun kedua. Dan tiga sha’ untuk Ramadhan tahun ketiga.

Pertanyaan: Berapakah jarak bepergian yang membolehkan tidak berpuasa?

Jawaban: Bepergian yang membolehkan untuk tidak berpuasa dan boleh meringkas (mengqashar) shalat adalah sekitar 3 km. Diantara para ulama’ ada yang tidak membatasi jarak safar. Apa yang menjadi anggapan orang bahwa itu safar. Dahulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam jika berpergian tiga farsakh beliau mengqashar shalat.

Dan safar yang haram, tidak boleh mengqashar shalat dan tidak boleh berpuasa di bulan Ramadhan. Berpergian karena maksiat tidak layak mendapat keringanan. Sebagian diantara ahli ilmu tidak membedakan safar yang maksiat dan safar ketaatan karena keumuman dalil. Dan ilmu itu ada disisi Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Pensyariatan tersebut terdapat dalam firman Allah Ta’ala,

وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ

“Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin” (QS. Al Baqarah: 184).

Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma mengatakan,

هُوَ الشَّيْخُ الْكَبِيرُ وَالْمَرْأَةُ الْكَبِيرَةُ لاَ يَسْتَطِيعَانِ أَنْ يَصُومَا ، فَلْيُطْعِمَانِ مَكَانَ كُلِّ يَوْمٍ مِسْكِينًا

“(Yang dimaksud dalam ayat tersebut) adalah untuk orang yang sudah sangat tua dan nenek tua, yang tidak mampu menjalankannya, maka hendaklah mereka memberi makan setiap hari kepada orang miskin”. HR. BUKHARI 4505

Bagi yang Hamil & Menyusui / Tua Renta / Pikun dll Cukup membayar fidyah saja,,,

Dan membayar fidyah ada dua cara :

Cara Pertama, dibayar secara satu per satu atau bertahap/dicicil.Dengan syarat dia harus sudah melalui / melewati hari yang ia tidak berpuasa padanya. Gambarannya :

– Dia memberi makan kepada satu orang miskin untuk tiap hari yang ia tinggalkan. Misalnya : Dia tidak berpuasa pada hari ke-3, maka pada maghrib hari ketiga tersebut dia memberi makan satu orang miskin. Berikutnya hari ke-4 dia juga tidak berpuasa, maka pada maghrib hari ke-4 tersebut dia memberi makan satu orang miskin. … dst.

-Atau bisa juga dikumpulkan beberapa hari yang ia tinggalkan. Misalnya dia tidak berpuasa hari ke-10 sampai ke-29. Pada hari ke-15 dia bayar fidyah untuk hari ke-10 sampai ke-15. Kemudian pada hari ke-25 dia bayar fidyah untuk hari ke-16 hingga hari ke-25. Lalu pada hari ke-29 ia bayar fidyah untuk hari ke-26 hingga ke-29.

Cara Kedua, dibayar sekaligus. Yaitu setelah ia melalui semua hari yang ia tidak berpuasa padanya, maka ia mengundang orang miskin sesuai jumlah hari yang ia tinggalkan. Misalnya seseorang tidak berpuasa sebulan penuh. Maka dia memberi makan 30 orang miskin.

Shahabat Anas bin Malik radhiyallah ‘anhu ketika beliau sudah lanjut usia dan tidak mampu lagi berpuasa, maka beliau memberi makan 30 orang miskin. (diriwayatkan oleh Abu Ya’la dalam Musnad-nya no. 4194. Sebagaimana pula diriwayatkan bahwa shahabat Anas bin Malik radhiyallah ‘anhu juga pernah membayar fidyah untuk tiap hari yang beliau tinggalkan. (lihat Fathul BariVII/180).

Membayar Fidyah boleh dilakukan ketika masih dalam bulan Ramadhan, boleh juga dilakukan di luar Ramadhan. Ketika di luar Ramadhan, boleh dicicil boleh juga sekaligus. TAPI DILARANG MEMBAYAR FIDYAH SEBELUM RAMADHAN.

Adapun membayar fidyah dalam bentuk uang, maka hukumnya tidak boleh. Karena dalam nash dalil disebutkan dengan lafazh “memberi makan”. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ

dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin. (Al-Baqarah : 184)

Seorang ‘ulama ahli fiqh international, Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah, ketika ditanya dengan pertanyaan serupa beliau menjawab sebagai berikut :

“Wajib atas kita untuk mengetahui salah satu kaidah penting, yaitu bahwa apa yang Allah sebutkan dengan lafazh “Al-Ith’am” atau “Ath-Tha’am” (memberikan makan) maka harus benar-benar ditunaikan dalam bentuk makanan. …. Jadi jika disebutkan dalam dalil dengan lafazh “Al-Ith’am” atau “Ath-Tha’am”(memberikan makan) maka tidak bisa diwakili/diganti dengan dirham (uang).

Oleh karena itu orang yang sudah lanjut usia yang berkewajiban memberi makan sebagai ganti dari puasa (yang ia tinggalkan), maka tidak bisa diganti dalam bentuk uang. Walaupun dia membayar dalam bentuk uang senilai dengan harga makanan sebanyak sepuluh kali, maka itu tidak bisa menggugurkan kewajibannya. Karena itu merupakan perbuatan melanggar ketentuan yang ditetapkan oleh dalil.” (Majmu’ Fatawa wa Rasa`il Ibni ‘Utsaimin XVII/84).

Dari penjelasan di atas, dapat disimpulkan :

  1. Fidyah untuk orang yang tidak mampu berpuasa boleh dibayarkan setiap hari selama bulan Ramadhan. Waktunya adalah ketika berbuka pada hari yang bersangkutan.
    2. Fidyah boleh juga dibayarkan dicicil beberapa hari sekaligus.
    3. fidyah boleh juga dibayarkan sekaligus selama satu bulan.
    4. Syarat terpenting untuk bisa membayar fidyah adalah sudah terlalui/terlewatinya hari yang ia tidak berpuasa padanya.

Shahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu pernah membayar fidyah dengan satu per satu, pernah juga sekaligus.
Bahwa membayar fidyah harus dalam bentuk makanan. Tidak boleh digantikan dalam bentuk uang.
Kaidah penting : apa yang Allah sebutkan dengan lafazh “Al-Ith’am” atau“Ath-Tha’am” (memberikan makan) maka harus benar-benar ditunaikan dalam bentuk makanan.

Lalu,,, Apakah yang harus membayar fidyah adalah orang tersebut (orang tua renta itu sendiri)? ataukah bsa dwakilkan oleh anggota keluarganya (anak, menantu, ataupun cucu) dengan niat membayar fidyah nenek/kakek tersebut?

Jika yang tidak berpuasa adalah orang tua itu renta, maka pada asalnya, yang bersangkutan sendirilah yang harus membayar fidyah, namun apabila dia tidak mampu, maka hendaknya kerabatnya membantu dia dalam membayarnya berdasarkan keumuman dalil yang memerintahkan untuk saling membantu (tolong-menolong) di atas kebaikan dan taqwa.

Seorang anak boleh baginya untuk membayar fidyah orang tuanya yang memang sudah tidak mampu lagi membayar fidyah.
Dalam salah satu fatwanya Al-Lajnah Ad-Dai`imah menyatakan tentang seorang yang berkewajiban membayar fidyah :

“Ibumu wajib memberi makan seorang miskin untuk tiap hari yang ia tinggalkan, yaitu sebanyak setengah sha’ makan pokok setempat. Kalau ternyata dia tidak memiliki apa-apa untuk ia bayarkan sebagai fidyah, maka dia tidak dikenai kewajiban apa-apa. Namun jika engkau (sang anak) ingin membayarkan fidyah untuk ibumu, maka yang demikian termasuk perbuatan ihsan(kebaikan/bakti), dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat ihsan.”

orang miskin yang dimaksud di sini adalah seorang muslim.
Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah ketika ditanya apakah boleh membayarkan fidyah kepada seorang yang bukan muslim (kafir), maka beliau menjawab :
“Adapun apabila seseorang berada di negeri kafir, dan dia berkewajiban membayar fidyah, maka kalau di negeri tersebut terdapat kaum muslimin yang boleh mendapat fidyah, maka boleh memberi makan mereka. Namun kalau tidak ada kaum muslimin maka hendaknya diberikan dengan negeri muslim lainnya yang membutuhkan.”

Adapun tentang apakah harus si miskin tersebut berpuasa ataukah tidak, maka tentunya kita menginginkan bahwa orang yang memakan pemberian kita adalah seorang muslim yang taat kepada agamanya. Bukan seorang yang banyak melanggar larangan agama.

Adapun tentang kriteria miskin, maka perlu dipahami apa pengertian miskin. Secara bahasa miskin adalah : seorang yang tidak memiliki apa-apa. Berasal dari kata bahasa arab sakana yang artinya ‘diam’. Disifati demikian, karena kondisinya yang tidak memiliki apa-apa membuatnya tidak bisa bergerak dan merasa rendah.

Adapun secara syar’i dijelaskan oleh para ‘ulama sebagai berikut : ِ adalah seorang yang tidak bisa mencukupi semua kebutuhan pokoknya, hanya separo kebutuhan pokok saja yang bisa ia cukupi.

Kebutuhan yang dimaksud adalah kebutuhan dirinya sendiri dan orang-orang yang menjadi tanggungannya, meliputi kebutuhan sandang, pangan, dan papan. Jika seseorang dalam satu bulan berpenghasilan 250 ribu, misalnya. Sedangkan kebutuhan dia selama satu bulan 500 ribu, maka orang seperti ini tergolong miskin.

Bisa jadi seorang punya handphone, padahal faktanya penghasilan dia tidak bisa mencukupi kebutuhan pokoknya. Maka orang seperti ini tidak berarti dikatakan sebagai orang kaya, dia tetap dikategorikan sebagai orang miskin, meskipun punya handphone. Atau punya barang-barang mewah lainnya, namun fakta kesehariannya penghasilannya tidak bisa menutupi kebutuhan pokok, orang seperti ini pun tetap dikategorikan sebagai miskin. Bisa jadi barang-barang mewah ia yang ia miliki hasil pemberian orang lain, atau dia berhutang, dan lain-lain, bukan dari penghasilannya. Atau bisa jadi karena dia memaksakan diri, padahal beberapa kebutuhan pokoknya terbengkalai.

Dan bayar fidyah boleh dengan bahan makanan pokok (beras, gandum, dan yang lain), adapun mie, telor bukan termasuk di dalamnya.

Sedangkan orang tua yang pikun termasuk pihak yang sudah tidak dikenai beban syari’at ini, jadi orang tua yang tidak puasa, tidak perlu membayar fidyah

Boleh Hukumnya membayar fidyah dengan beras dan para ulama berbeda pendapat tentang berapa ukuran fidyah untuk satu hari ketika tidak berpuasa, sebagaimana disebutkan Ibnu Jarir dalam tafsirnya (Tafsir Ath-Thabari).

Makanan yang kita berikan untuk fidyah adalah ½ sha’ makanan pokok, yaitu sekitar 1,5 kg. Pendapat ini yang dikuatkan oleh sebagian ‘ulama.

Sebagian ulama mengatakan wajib bagi yang tidak berpuasa sehari untuk memberi makan seorang miskin sebanyak setengah sha’ dari qumh (sejenis gandum),

sebagian yang lain mengatakan satu mudd dari qumh dan seluruh makanan pokok mereka,

sebagian yang lain mengatakan setengah sha’ jika berupa qumh, dan satu sha’ jika dari kurma atau kismis (anggur kering),

sebagian yang lain mengatakan sesuai dengan yang dimakan oleh yang tidak berpuasa ketika di hari itu,
dan pendapat yang lain.

Satu sha’ kurang lebih sama dengan 3 kg
satu mudd sama dengan seperempat sha’.

Jadi boleh untuk membayar fidyah dengan beras atau bahan makanan pokok lainnya dengan ukuran yang telah disebutkan.

Dibolehkan pula membayar fidyah dengan makanan yang siap santap (nasi dan sayur lauknya) dengan ukuran yang mengenyangkan si miskin. Satu kali makan untuk sehari ketika tidak berpuasa.

Dan ketentuan besarnya membayar fidyah antara untuk orang tua yang sudah renta ADALAH SAMA juga dengan wanita yang lagi menyusui

Fidyah tersebut BOLEH dibayarkan kepada kakek nenek kita sendiri yang notabene dia jg orang miskin

Membayar fidyah TIDAK BOLEH diberikan pada kotak amal khusus Takjilan (Buka Puasa) karena kita belum tahu, siapa yang memakan makanan kotak tersebut, apakah termasuk kalangan miskin atau bukan

Tapi diperbolehkan dalam membayar fidyah adalah anda memberi sejumlah uang kepada pihak-pihak yang terpercaya, untuk kemudian pihak tadi memberikannya kepada si miskin DALAM BENTUK BAHAN MAKANAN ATAU MAKANAN SIAP SANTAP yang bisa mengenyangkannya.

Lalu bagaimana lauk fidyah? Apakah harus dengan ayam, daging atau sejenisnya? Dan 1x tidak puasa apakah membayar makanan siap santap 1x atau 3x makan?

Adapun makanan satu kali makan sudah cukup untuk fidyah satu hari, adapun lauknya adalah makanan yang biasa kita makan asalkan mengenyangkan si fakir/miskin.

(Majmu’ah Asyrithati Fiqhil ‘ Ibadaat)

Sumber: Fatwa-fatwa Penting dalam Sehari-hari  

Karya: Syeikh Muhammad Shalil Al Utsaimin.

 

 

 

 

By Radio Kita FM Cirebon

Radio Kita 94.3 FM Cirebon. SMS/WA 085210943943, Telpon On Air: (0231) 488281

Leave a Reply